The Disney Way

Suatu hari seorang teman bertanya lewat whatsapp, “Bro, gimana cara hitung-hitungannya untuk gaji karyawan.?!.”

Singkatnya saya menjawab: “Kalau mau cepat kaya pake sistem komisi, tapi kalau mau keberkahan, ya, manusiakan karyawan.”

Membaca buku the Disney Way ini, mengigatkan ulang akan percakapan saya itu. Namun muncul lagi perbagai pertanyaan-pertanyaan yang bertabrakan dalam pikiran saya sendiri tentang apa sebenarnya yang membuat seorang karyawan bisa melakukan hal-hal luar biasa demi perusahaan, apakah empat pilar disney berupa Dream, Believe, Dare dan Do, bisa membuat perubahan sampai di level terbawah sekalipun.

Dalam bab believe di buku ini ada cerita tentang betapa heroiknya doorman (penjaga pintu) hotel Four Seasons, yang ketika seorang penghuni hotel yang checkout kemudian tasnya tertinggal di sekitaran lobby karena buru-buru naik taksi ke bandara. Dengan sigapnya penjaga ini mengambil inisiatif memesan taksi dan mengejar si empunya tas. Naasnya ia terjebak macet akhirnya terlambat, pesawat telah lepas landas. Tak patah arang, ia memeriksa tas dan menemukan nomor telepon kantor kostumer hotel tadi, dan menanyakan kemana penerbangannya. Ia pun memesan tiket ke Boston untuk mengantarkan tas, tanpa izin atau pemberitahuan kepada pimpinannya di Hotel.

Dalam pikiran saya, apa yang doorman ini percayai? Apa yang ia yakini? Apa yang ada dalam pikirannya? sehingga begitu luar biasa pengabdiannya kepada seorang pelanggan yang tidak ia kenal. Belum tentu juga ia dapat naik gaji melakukan hal itu, malah bisa jadi juga dipecat karena meninggalkan tugasnya di hotel.

Saya merenung dan rasa-rasanya semuanya kembali kepada Dream dan Believe apa yang kita ingin tanam di perusahaan kita. Saya ingin cerita sedikit pengalaman saya, bukan berarti perusahaan kecil saya sudah punya karyawan model doorman di Hotel Four Seasons tadi, tapi minimal perubahan kecil yang pernah saya alami.

Tadinya saya berpikir bahwa sistem komisi untuk karyawan adalah model yang paling adil untuk menggaji karyawan. Karyawan bekerja berdasarkan jerih payah keringan yang meraka keluarkan. Kalau mereka rajin ya dapat gaji banyak, kalau malas-malasan yang dapetnya sedikit. Saya juga tidak perlu susah-susah ngotrol mereka, mereka akan sadar sendiri ketika performanya jelek maka otomatis gaji yang mereka dapatkan sepadan. Artinya mereka sendirilah yang menentukan gaji mereka. Saya akui sistem seperti ini, super duper simple and fair.

Tapi ternyata saya salah!

Salahnya dimana? salahnya bukan pada sistem penggajian tapi salahnya ada pada saya punya Dream dan Believe yang salah tentang perusahaan. Bibit kapitalis sudah tumbuh berkembang dalam pikiran dan tindakan saya.

Sepulang dari Malang setelah 4 hari bersama Mas J, saya merombak ulang Dream dan Believe saya tentang perusahaan. Tadinya saya hanya ingin kaya dari bisnis, berubah memanjang, tak hanya kaya di dunia tapi juga di akhirat. Tadinya saya hanya ingin balas dendam atas masa lalu yang miskin, berubah menjadi memaafkan diri sendiri mencoba bebas dari keserakahan. Tadinya saya ingin memiliki legacy, meninggalkan perusahaan besar, berubah orientasi membelokkannya menjadi potensi amal jariah yang bisa diwakafi.

Ba’da itu sistem penggajian saya berubah. Saya memulai dengan bertanya Dream mereka apa dalam hidup, saya menggali Believe apa yang ada dalam diri mereka. Walau ini adalah proses berkelanjutan, saya sudah merasakan perubahannya.

Perubahan paling mendasar yang saya rasakan adalah, saya merasa tenang. Saya bukan lagi pemilik perusahaan tapi hanya sebagai kepala suku. Mereka hidup dan menghidupi diri mereka dari perusahaan, saya hanya membimbing. Perusahaan berubah dari tadinya profit oriented banget, menjadi lebih berkah oriented.

Walt Disney mengatakan;

Setelah 40 tahun di dalam dunia bisnis, penghargaan terbesar yang saya peroleh, menurut saya, adalah bahwa saya mampu membangun organisasi yang indah ini…, dan bahwa masyarakat menghargai dan menerima apa yang telah saya lakukan selama ini–hal tersebut merupakan penghargaan yang luar biasa.

Bagaimana kalau kita rubah kalimatnya menjadi;

Kebahagiaan terbesar yang saya peroleh dari bisnis ini, menurut saya, adalah saya meninggal dengan khusnul khotimah, mewakafkan perusahaan sebagai amal jariyah, ribuan karyawan dan keluarganya yang mendoakan, serta saya kembali kepada Allah dengan hati yang selamat. Amin.

Published by

Syabli Muhammad

yang lagi belajar :)

4 thoughts on “The Disney Way”

Comments are closed.