Tertinggal Rindu

Saat kita bertemu hari saat dia tiba-tiba telah pergi, tersisa sesungging senyum di ingatan. Mata yang teduh, bibir menggamit bulan sabit, lukisan keikhlasan menggema terang.

Ketika dia yang telah bertahun membersamai tetiba menghilang, tergamit suaranya menggema di udara kenangan. Tinggi suaranya saat marah, lembut suaranya kala membelai, dan tenang rimanya kala menasehati.

Kala kau tak menatap matahari dan melewatkan malam lagi bersamanya, menyeruak potonga-potongan memori yang menggesa dadamu, bergelombang mencekat kerongkonganmu dan akhirnya tumpah di pelupuk mata. Mengalir bersama rindu di tiap tetesnya. Merembesi pipimu, menunggu hatimu yang bergelamut bersama beraneka rasa hingga akhirnya ia ikhlas. Serta menyerahkan semuanya pada obat yang bernama waktu.

Semua tak kan lagi sama pikirmu. Ada doa darinya yang terputus. Setengah kekuatanmu menghadapi dunia menguap. Sandaran tempat kau mendera tangis telah pergi. Kau merasa sendirian. Segala benda mengingatkanmu kepada kepingan adegan lalu.

Ada suasana tak lagi seramai dulu kala satu kursi di meja makan sana telah kosong ia tinggalkan. Suapannya telah menemanimu tumbuh, masakannya telah membentuk aroma rasa dalam lidahmu, bahkan saat kau jauh, mereka itulah yang selalu membuatmu menggerus langkah tuk segera pulang. Pun saat kau sudah punya keluarga, kiriman kecil darinya selalu datang walau kau tak meminta.

Kalau kau memilih menangis dalam sepi, doakan dia. Kala ingatan tentangnya datang dalam gelisah tidurmu, bacakan doa untuknya. Jika tetiba satu benda mengusik lagi kenangan tentangnya, kirimkan doa padanya. Dan janganlah kau berhenti di situ. Ada amal baik teladannya yang harus kamu lanjutkan. Ada kerja shalih yang wajib kamu buat sebagai hadiah untuknya. Semoga dalam dimensi yang berbeda, ia melihatmu dengan tersenyum sampai tiba waktunya kita semua, Allah kumpulkan kembali di surga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *