Selimut Pekat

Hi gelap,

Kenapa datang menyapa terus; Aku sudah lelah, sangat lelah.

Tatap mata antara iba dan sedih menusuk dadaku. Kau tahu pasti, komentar sinis dan serangan bertubi tidak pernah bisa mengenaiku. Tapi jantungku sangat lunak dalam lingkaran terdalam, sebuah bayang senja di pelupuk mata bisa membuatku memeleh air mata.

Senyum mungil juga seakan mengiba, akan apa masa depan serupa tabir, yang tak kan terkuak tapi telah robek lebih dulu dengan penghianatan akan janji. Ya, aku mulai mempertanyakan jiwa, tentang kehadiranmu yang tak kunjung menjadi rupa.

Oh gelap,

Menyingkirkanmu sesulit selimut pagi di subuh dingin sebakda hujan tadi malam. Kan mudah bagi orang yang bermimpi buruk, tapi sulit untuk yang menikmati mimpi. Mungkin mudah untuk para penunjuk jalan berkepal cahaya, tapi saat ini, aku berantaikan engkau wahai gelap. Bisakah engkau melipir barang tiga kedipan mata, agar sinar itu bisa membangunkanku dengan segera.

Lingkaran diam di sekitarku mulai menunjuk tanda, bahwa lapis demi lapis menunjukkan aku telah jatuh lebih dalam, dalam samudera yang kian pekat. Tanganku meronta menunjuk langit, tapi hatiku mengecap beku.

Apa kabar tentang terbang. Itu sepertinya bayang yang telah lama buyar. Entah pernah ada atau sudah pudar. Mengingatnya mengiris kepekaan hati. Tangisannya meraung seperti sirine tanpa suara. Hanya kedip antara hidup dan mati, makin redup makin redam.

Apa kabar munajat, tentang dia yang begitu pongah. Untuk hanya sekadar membuka telapak, agar tapak kuat memijak. Tahukan engkau makna ketinggian yang menjatuhkan? Kala ucap tak lagi terlisankan dalam bentuk ketundukan hati dalam kesadaran akan kelemahan. Dalam letup kata meminta tolong. Dalam keselarasan lidah mengikuti jiwa yang menyerah.

Hi gelap,

Menyingkirlah satu atau dua hasta agar pandanganku bisa melihat salju yang turun di kejauhan dengan kristal yang meleleh menerpa telapak tangan. Dingin yang menyejukkan impian. Oh gelap, pergilah sebentar, biar ku dekap doa-doa terkasihku. Awan teduh yang selalu menghalau bayangku tanpa pernah aku syukuri.

Aku disini kembali mengetikkan kata, untuk kembali mengeja, adakah rima yang masih menyala, untuk ku rangkai menjelma lentera, dalam redup yang kian menyiksa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *