Selamat Jalan Ustadz …

Semester pertama saya menjalani S2 di Surakarta di tahun 2010 benar-benar menyedihkan. Saya lapar, benar-benar lapar. Semua biaya perkuliahan sudah ditanggung oleh beasiswa, tapi permasalahannya adalah saya tidak punya cukup uang makan setelah membayar tempat kos. Gaji saya sebagai guru privat hanya 30 ribu perminggu, dan Surakarta adalah tempat baru bagiku, tak banyak kenalan, tak kenal medan, tak punya teman.

Saya lapar, benar-benar lapar. Saya hanya makan nasi kucing satu kali sehari, kadang dua kali ketika saya sudah tidak tahan. Lebih banyak saya puasa saat itu, dan air keran adalah satu-satunya pengganjal perut. Mobilitasku sangat terbatas, tidak bisa kemana-mana karena tidak ada ongkos, motor tidak ada. Jadilah aku hanya mengandalkan kaki. Aku ingat mencari lowongan guru privat jalan kaki belasan kilo, setelah ketemu ternyata hanya sebuah rumah kurang terurus jarang disapu. Aku ketemu ibu-ibu yang hanya bermodalkan HP dan kartu absen. Saat itu miris sekali, aku harus menyerahkan ijazah S1 yang asli untuk ia sita sebagai jaminan, agar aku bisa dipercaya mengajar privat di salah satu kliennya–yang tetap kuterima karena rasa lapar.

Setelah mendapat jadual privat pun tidak kalah menyakitkan. Aku harus berjalan belasan kilometer, tanpa tahu arah jalan untuk menemukan rumah tempat si anak berada. Kau tahu apa yang paling menyakitkan? Aku mengajarkan Iqra, dengan perut lapar, di rumah tiga lantai, tanpa disuguhkan air putih seteguk pun. Aku mengajar anak seorang mantan diplomat, rumahnya penuh dengan photo dan aksesoris luar negeri.

Sampai akhirnya, di pertengahan kuliah oleh Dr. Mu’in, beliau bercerita sedang membutuhkan guru yang mau tinggal di pondok tahfidz asuhannya yang berada di Klaten. Tak lagi pikir panjang, selesai kuliah aku temui beliau di ruangan ketua jurusan, menyatakan keinginan untuk tinggal dan membantu di pondok beliau. Jawaban beliau sederhana, “Besok datang ke pondok ya, kita ada rapat yayasan!”. Beliau menjawab seperti itu, tanpa bertanya banyak tentang siapa saya, latar belakang saya, apa kontribusi yang bisa saya berikan. Hanya begitu saja, “besok datang, kita ada rapat!”

Begitulah Usztadz Mu’in menghilangkan rasa lapar saya.

Cerita setelah itu adalah penggalan-penggalan pengalaman ilmu bersama beliau. Betapa kepercayaan yang telah beliau berikan kepada saya mulai dari menjadi guru, menjadi direktur majalah, membantu beliau membentuk ma’had aly. Bahkan sampai tawaran untuk mencarikan istri agar saya mau menetap dan memberikan kontribusi di Klaten setelah lulus S2.

Terimakasih Ustadz atas semua kebaikan dan juga ilmu serta kepercayaan yang telah engkau berikan kepada Saya. Ya Allah persaksikanlah bahwa beliau orang baik. Terimalah amal ibadahnya dan tempatkanlah dia bersama para Nabi dan Rasul serta para shuhada juga orang-orang sholih, seperti yang beliau selalu cita-citakan, selalu impi-impikan.

اَللهُمَّ اغْفِرْلَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَاَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرْدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلاَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ وَاَبْدِلْهُ دَارًاخَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَاَهْلاً خَيْرًا مِنْ اَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَاَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَاَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَتِهِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيْرَنَا وَكَبِيْرَنَا وَذَكَرِنَا وَاُنْثَانَا.
اَللهُمَّ مَنْ اَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَاَحْيِهِ عَلَى اْلاِسْلاَمِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى اْلاِيْمَانِ.
اَللهُمَّ لاَتَحْرِمْنَا اَجْرَهُ وَلاَتُضِلَّنَا بَعْدَهُ بِرَحْمَتِكَ يَآاَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ…

Published by

Syabli Muhammad

yang lagi belajar :)