Secangkir Susu Hangat dan Sebuah Perjanjian

I’am a terrible father…

Aku pernah sok-sok’an menulis di situsku, tepatnya di bagian tentang aku dengan tulisan: ‘a full time father’, seorang ayah sepenuh waktu. Entah apa yang aku pikirkan waktu itu, aku tidak ingat. Mungkin saja waktu itu aku baru merasakan menjadi seorang ayah, atau mungkin saja waktu itu aku sedang jadi pengannguran. Tidak ada bedanya.

Dalam hati, bisa jadi itu adalah sebuah harapan, atau mungkin saja sebuah kalimat pelarian dari keadaan sedang tidak punya kerjaan. Oh ya, aku ingat, itu adalah waktu aku memutuskan untuk tidak lagi menjadi dosen, berhenti dari jabatan dekan dan memutuskan berwirausaha.

Ok, jadi kita simpulkan saja, itu adalah harapan sekaligus kalimat hiburan setelah tidak punya jabatan apa-apa dengan penghasilan yang belum jelas. hehe.

Tapi bukan itu yang aku ingin tulis malam ini, aku ingin mengingatkan diri sendiri bahwa aku masih seorang ayah yang buruk. Bahkan sekarang, setelah tiga orang nyawa Allah amanahkan di rumah kecilku. Namun, bukan keburukanku sebagai ayah yang akan aku tuliskan sekarang, melainkan sebuah usaha perbaikan menjadi ayah yang lebih baik.

Berawal dari lintasan postingan seorang psikolog muslim yang mengingatkan tentang begitu pentingnya bagun pagi untuk anak, sebagai upaya untuk melatih mental dan juga jiwanya agar tumbuh menjadi pribadi yang kuat, penuh dengan hikmah. Bukan pribadi malas-malasan yang kalah sama ayam.

Sebelumnya, ingin aku sampaikan kalau bangun pagi bukanlah masalah buatku. Karena sekarang pekerjaan utamaku adalah beriklan di Facebook, yang mana perhitungan start iklan paling bagus adalah di awal waktu (jam 12 malam) maka jam kerjaku berubah ke jam tersebut. Selalu tidur cepat dan bangun jam 1 atau jam 2 malam untuk bekerja.

Tapi permasalahanku dari dulu adalah selalu tidak enakan kalau harus membangunkan orang lain. Tiga tahun di pondok, aku termasuk orang yang jarang membangunkan teman tiga teman kamar lainnya kalau sudah subuh, kecuali ustadz sudah mengendus di depan pintu. Sewaktu di kuliah, aku tinggal di ruangan sebelah mimbar imam bersama seorang mahasiswa dari jurusan tarbiyah, dia juga jarang sekali aku bangunkan kala aku bangun duluan. Padahal setiap dia terbangun, ia selalu menyempatkan sekadar memanggil namaku untuk siap-siap subuhan.

Nah, setelah punya anak pun, istri sendiri bahkan jarang aku bangunkan. Rasanya setiap kali ingin membangunkan, selalu ada perasaan tidak enak, ditambah lagi aku punya sebuah pemikiran bahwa setiap orang itu punya kesadaran sendiri untuk bangun pagi, sesuai keinginan masing-masing. Ini adalah mindset yang terus melekan dalam kepalaku; terbukti setiap kali aku menset alarm untuk membangunkanku di jam tertentu. Selalu saja, aku terbangun setengah jam, atau paling lambat lima menit sebelum alarm itu berbunyi. Aku selalu menjadi orang yang bangun lima menit sebelum alarm berbunyi, menunggu dering yang teleh aku setting sendiri sebelumnya, untuk kemudian aku tunggu dan aku matikan.

Tapi ternyata aku salah…

Ini adalah tentang tanggung jawab sebagai seorang ayah. Mereka adalah anak-anakku. Mereka suci polos dalam bentuknya yang paling penurut. Sekarang terserah kepadaku, bagaimana aku akan membentuk mereka. Tak kubangunkan mereka tidak akan bangun dan terus tidur sampai mereka menjadi pribadi yang pemalas. Aku harus membangunkan mereka.

“Bang,” kataku pada Adzka si sulung yang sekarang sudah lima tahun.

“Besok Abi bangunin pagi-pagi ya…” aku menunggu ia mencerna kalimatku, sejenak kemudian kulanjutkan dengan mengatakan the reason why-nya

“Kita olahraga lari pagi, pake sepatu.” aku tahu dia suka pake sepatu, makanya aku menekankan benda itu harus terucap.

“Setelah bangun,” aku harus membuat uruan waktu supaya ia mendapat gambaran utuh, agar ia juga tahu bahwa bangun pagi bukan cuman untuk pake sepatu “Kita ke masjid sholat subuh baru kita pulang ganti sarung pake celana terus pake sepatu dan lari pagi, Ok?”

Ia mengangguk dan ada sebulir senyum di bibirnya. Ia sepakat. Tapi aku harus mengulang satu kali lagi, untuk mengikat.

“Tapi besok kalau Abi bangunin jangan marah ya!” Ia mengatakan Iya, aku kecup keningnya dan kemudian rutinitas meninabobokkan sampai ia tertidur.

***

Sehabis wudhu untk sholat subuh aku keluar kamar mandi dan mendapati dia, Adzka sudah berdiri di pinggir kasurnya. Subhanallah… dia sudah bangun tanpa aku bangunkan.

Tak mau melepaskan kesempatan emas, aku memujinya karena telah bangun. “Abang sudah bangun, Abi buatkan susu hangat ya!” rona mukanya yang tadinya masih penuh dengan kantuk mulai berubah, ada warna semangat yang mulai tumbuh mendengar kata susu hangat.

Kepalang tanggung, walaupun tadi malam, adiknya Adzka, si nomer dua belum aku buat perjanjian tentang bangun pagi, karena si Abang sudah bangun tanpa dibangunkan, segelas susu hangat plus abang yang sudah melek, akan membuat dia bersemangat untuk bangun. Dan benar saja…

“Abang… abang,” Aku juga memanggilnya abang karena dia nomer dua, dia masih punya satu adik perempuan paling bungsu. “Abang bangun ya… Abi udah buatkan susu, susu yang kita beli tadi malam itu lho., Abang Adzka juga udah bangun itu. Bangun ya, minum susunya selagi masih hangat.”

Alhamdulillah dia membuka mata dengan berbinar, di sampingku sudah ada Abang Adzka dengan membawa dua buah gelas susu hangat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *