Ini Kunci Kedua Sukses Bisnis

Suatu malam saya berbincang dengan istri, “Hon, saya nggak bisa bisnis tanpa kamu!”

“Kenapa?” tanyanya.

“Kalau Honey sendiri yang ngejalanin, omset paling berputar di angka 30 sampai 40 juta sebulan. Tapi kalau kita berdua yang ngejalanin, alhamdulillah bisa sampai angka 100 juta bulan ini.”

“Kalau Kak Li sendiri yang ngerjain?” dia menggoda.

“Kayaknya cuman lima juta perbulan!” dan kami berbua pun tertawa.

Ini adalah kunci kedua yang harus kamu lakukan kalau mau sukses di bisnis. Ini adalah lanjutan dari tulisan kemarin. Ya, KOLABORASI.

Setelah kamu tahu apa nilai di diri kamu yang harus kamu tingkatkan dan menemukan bisnis yang pas dengan natural karakter shio sukses yang kamu punya, saya yakin kamu sudah punya gambaran masa depanmu di bisnis. Namun sayangnya, ini tidak cukup. Kalau kamu mau berhasil, ya kolaborasi. Dengan siapa? Dengan karakter yang berbeda dengan kamu.

Saya sendiri telat menyadari ini, bahkan tidak pernah merencanakan. Saya berkolaborasi ya gara-gara menikah. hehe. Ini bisa jadi tips juga, seperti kata Rendy Saputra, CEO Keke Busana sekarang, “Kalau hidupmu kacau, bisnis nggak sukses-sukses, menikah saja!”

Lalu bagaimana dengan sifat alamiah manusia yang berkumpul hanya dengan sejenisnya saja, apalagi kalau masalah bisnis, kalau berurusan dengan uang keluarga bisa jadi musuh, apalagi orang. Itulah tantangannya kalau mau besar di bisnis. Nih saya kasih tahu, kalau mau sukses dalam satu bisnis minimal ada tiga karakter yang harus ada.

Saya sendiri adalah tipe Mechanic yang kunci suksesnya adalah membuat sistem yang bisa diduplikasi, sementara Istri saya adalah seorang Deal-Maker. Jadi cara kerja kami saat ini adalah; Istri membuat Deal yang menguntungkan sementara saya berusaha membuat sistemnya; mulai dari strategi penjualan sampai rekrut karyawan.

Istri sibuk dengan deal-deal ke supliyer dan kostumer, saya sibuk mencari cara gimana supaya karyawan produktif dengan sistem yang ada. Karena shio Mechanic yang fokus ke sistem, maka tidak heran kenapa sampai hari ini, kami sering sekali bergonta-ganti karyawan. Saat ini saja, kami menerapkan tidak ada kontrak kerja. Kontrak kerjanya adalah kenyamanan kedua belah pihak, kalau owner dan karyawan happy, kerjasama berlanjut. Kalau sudah ada salah satu yang tidak nyaman, sebaiknya berpisah baik-baik.

Akan tetapi, terus terang bisnis saya masih jauh dari sukses. Masih belum ada tipe Creator terutama masalah produk, belum ada Accumulator yang bisa kami jadikan bagian keuangan. Begitu seterusnya, semoga kamu sudah dapat gambarannya.

Silahkan perbanyak referensi terkait kolaborasi ini, bisa dengan baca buku atau nonton film. Salah satu film yang saya rekomendasikan adalah The Founder yang bercerita tentang awal mula perusahaan McDonald bisa besar sampai hari ini. Di situ, Anda akan menemukan tiga tipe kunci kenapa McD bisa jadi perusahaan raksasa dengan puluhan ribu gerai di seluruh dunia; Donalds Brothers yang merupakan Creator, Ray Kroc yang merupakan Mechanic dan Harry Sonneborn yang merupakan Accumulator.

Lihat juga Microsoft yang besar bukan hanya karena sosok Bill Gates. Selain Bill Gates yang seorang Creator, di dalamnya ada beberapa orang kunci yang membuatnya bergulir cepat dan mendunia. Ada Steve Baumer, CEO Microsoft yang seorang Supporter. Selanjutnya ada Paul Allen yang menjadi mitra mereka lainnya, dia adalah seorang Accumulator.

Jadi, kembali lagi ke awal. Siapa diri kita? Posisi kita berada di mana? Apa yang harus kita lakukan setelah mengetahui karakter alami Anda? Yang membuat banyak masalah dan kegagalan dalam bisnis adalah Anda tidak tahu siapa diri Anda, seperti apa karakter Anda, dan dimana posisi Anda. Inilah yang membuat waktu dan tenaga Anda sia-sia. Inilah yang membuat kurva belajar Anda panjang, berat dan melelahkan.

So, bagi yang jomblo, segera menikah!

NB: Kalau ada yang mau diceritakan, tulis aja di kolom komen. Seorang intuitif seperti saya sangat suka bila ada yang cerita masalah. Sehingga otak saya jadi hidup dan berusaha menemukan solusi. Itu artinya, saya jadi belajar.

Selesaikan Dua Hal Ini Kalau Mau Sukses di Bisnis!

Kalau kamu sudah kebelet pengen bisnis dan nggak tahu dari mana, semoga tulisan ini bisa membantu. Kalau kamu sudah coba berbagai bisnis tapi kok ya gagal terus, mudah-mudahan tulisan ini jadi pencerahan. 🙂

Pertama-tama, gini deh! Menurut kamu, kalau manusia di dunia ini dibagi dua kelompok antara introver dan estrover, kamu termasuk yang mana?

Introver itu orang yang lebih senang dengan kesendiriannya, sedangkan ekstrover lebih ke tipikal mudah ketemu orang. Introver tuh kalau ada masalah lebih banyak merenung sendiri, beda kalau ekstrover lebih suka mencari orang untuk tempat cerita atau minta tolong.

Dalam hal pilih baju misalkan, kalau orang introver itu pilih baju jarang bahkan nggak pernah minta pendapat orang, beda sama ekstrover, lebih suka tanya pendapat orang dulu baru mantap! Contoh lain, kalau seandainya kamu pinjem mobil sama temen terus tiba-tiba mogok di jalan, apa yang kamu lakukan paling dulu? Orang introver biasanya cari manualnya dulu, perbaiku dulu sebisanya, atau bawa ke bengkel sekalian. Berkebalikan dengan orang ekstrover, ketika kejadian, dia akan langsung ambil HP kabari dulu yang empunya mobil.

Kira-kira kamu di posisi mana?

Saya pribadi seorang introver murni, bahkan bisa sampai berbanding 85:15 dengan sisi ekstrover saya. Saya tidak nyaman menjadi fokus perhatian atau fokus banyak orang. Saya payah dalam memperhatikan satu orang, apalagi banyak orang. Berdiri di depan panggung untuk membahagiakan banyak orang adalah penderitaan bagi saya. hehe

Bisakah seorang introver mengajar? Bisa. Saya pernah jadi guru tervaforit di salah satu SMP di Klaten, saya juga pernah jadi dosen di dua kampus berbeda. Tapi, dalam jangka waktu yang terus-menerus tidak akan bisa. Tidak natural bagi kaum introver untuk terus berusaha membuat orang lain suka. Well, mungkin itu alasan walaupun saya pernah jadi wakil rektor dan dekan, tetap saja, pekerjaan itu tidak pernah menjadi top of mind saya.

Jadi apa hubungannya dua tipe ini dengan bisnis? Kok malah jadi pelajar psikologi sih. Sabar, tentukan aja dulu kamu yang mana!

Sederhananya, orang introver mendapatkan energi dengan diam dan berbicara dalam hatinya sendiri. Introver menjaga jarak dengan keramaian pada saat ada yang dipikirkan. Beda halnya dengan ekstrover yang mendapatkan energi dari orang sekitar. Mereka menyedot energi dari social interaction. Berkumpul itu menyenangkan buat orang ekstrover. Sebagai catatan, pada saat kaum introver diam dan malas bicara, jangan dipaksa dan jangan merasa terganggu. Itu hanya jeda sebentar, Biarkan kami diam, berbicara dengan diri sendiri, setelah itu kami akan kembali normal lagi. Kami memang tidak pandai mengekspresikan diri.

Kenali siapa diri Anda, di mana karakter sukses Anda dalam berpikir dan bertindak, serta apa latar belakang karakter Anda dalam berinteraksi. Jika Anda sudah menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, Anda pasti akan merasa lebih nyaman menjalani sebuah tindakan. (Diambil secara copy paste dari bukunya Mardigu Wowiek, Tajir Melintir)

Tidak ada manusia yang 100% introver atau ekstorver. Pasti ada yang dominan 80% ekstrover 20% introver, atau sebaliknya. Jadi, know your self, kenali diri itu yang utama.

Ok saya orang Ekstrover, lalu apa? Sebelum saya kasih contoh bisnis yang tepat untuk kamu coba lihat lagi dua tipe manusia berkut ini!

Kalau manusia dibagi jadi dua lagi, antara intuitif (manusia langit) dan sensori (manusia bumi) kamu termasuk yang mana?

Orang langit adalah tipe pencipta atau kreator, sedangkan orang bumi adalah tipe pelaksana. Orang intuitif sangatlah kreatif, bahkan di bawah tekanan dia semakin kreatif. Senang kerja mepet-mepet waktu. Adapun orang sensori adalah pelaksana. Dialah yang bergerak, take action. Jika orang langit adalah pencipta ide, orang bumilah yang mengambil tindakan untuk melaksanakannya.

Tidak ada yang lebih baik antara satu dengan yang lain, orang langit memang kekuatannya di ide-ide yang kreatif tapi orang bumi adalah si penggerak. Orang langit tanpa didukung orang bumi ya nggak jalan. Orang bumi tanpa orang langit, ya kerjanya begitu-begitu aja nggak ada perkembangan dan inovasi.

Sampai sini sudah nemu kamu termasuk yang mana?

Setelah tahu dimana sisi natural kamu bekerja dan bertindak, juga tahu dimana kelebihan dan kekurangan kamu, sekarang kita ambil contoh beberapa bisnis yang kira-kira pas dengan kamu. Ini gambaran umum supaya mulai ada cahaya dalam lorong gelap ketidak mengertianmu atas dirimu sendiri.

Kalau mengambil contoh bidang usaha, manufaktur itu lebih banyak di introver karena termasuk change production. E-commerce itu lebih banyak orang intuitif karena dia mainnya di sistem. Adapun jasa lebih banyak di orang ekstrover karena mereka people person. MLM juga kebanyak orang ekstrover. Orang introver jangan coba-coba main MLM. Bukannya tidak cocok, tapi tidak natural. Kalau orang sensori lebih banyak maen di saham, trading, bursa efek, kebanyakan mereka main di sana.

Bagaimana? sudah kebayang kamu siapa dan cocok di bidang bisnis mana? harapannya sih sudah.

Saya pribadi adalah orang introver yang intuitif. Saya cocok kerja di bidang e-commerce. Makanya saya sekarang sangat menikmati dunia internet marketing, buat toko online, iklan di facebook dan google. Sarungan depan laptop dan hp, sampai mertua saya pusing, ini menantu kerjaannya apa sih, di kamar mulu nggak pernah keluar rumah. Mungkin itu juga sebabnya beasiswa LPDP sudah dapat tapi nggak juga seratus persen effort untuk berangkat kuliah. 🙁

Nah, sekarang kamu bagaimana? Kasih komentar di kolom bawah ya!

Sebelum saya tutup tulisan ini, saya mau kasih istilah-istilah yang bisa kamu pelajari lebih lanjut untuk menunjang kesuksesan kamu di bisnis;

  1. Orang yang intuitif disebut Creator, kalau mau sukses, harus punya konsep.
  2. Orang yang intuitif dan ekstrover disebut Star, mau sukses harus mampu berpromosi dan menciptakan daya tarik brand
  3. Orang yang ekstrover murni disebut Supporter, orang ini harus menciptakan tim operasional kalau mau leading.
  4. Orang yang sensori dan ekstrover disebut Deal-Maker, dia ini harus punya jaringan dan koneksi pasar.
  5. Orang yang sensori disebut Trader, kalau ini wajib memiliki barang yang bisa dijual dan dibeli.
  6. Orang yang sensori yang introver Accumulator, yang ini harus punya aset yang bisa dijaminkan.
  7. Orang yang introver murni disebut Lord. Lord harus punya arus kas yang kuat.
  8. Orang introver yang intuitif disebut Mechanic, kalau tipe ini harus punya model yang unggul.

Udah nulis panjang kali lebar ternyata tidak sama dengan judulnya, dua hal yang harus kamu selesaikan kalau mau sukses bisnis. wkwkwk. Ini baru bagian pertamanya saja. Jadi point keduanya saya simpan di tulisan berikutnya aja ya, itupun kalau banyak yang komentar. Capek juga nulis kalau kagak ada yang baca.

Jadi segera tinggalkan komentar kamu itu termasuk tipe yang mana dan cocok nggak dengan bisnis yang kamu rencanakan atau sedang kamu kerjakan. Kalau nulis itu aja susah, ya udah tulis aja “Lanjutin dong Bli!” masa gitu aja susah. 🙂

 

 

Kamu Nggak Cocok Bisnis!

Kamu pasti sering dengar kalimat seperti itu. Kalimat ini aku dengan pertama kali pada waktu kecil, dari Ibuku.

“Bapakmu nggak cocok jualan! Rugi terus… Dia beli tembakau untuk dijual, eh malah pulang-pulang tembakaunya habis dia bagi-bagi.”

“Kok bisa bu?” tanyaku polos waktu itu.

“Kata bapakmu, mereka hutang dulu, tapi kamu tahu lah bapakmu, mana tega dia nagih-nagih.”

Kalimat itu cukup membekas di benakku. Sebagai anak dengan latar belakang petani dan guru, menjadi pebisnis tidak pernah sekalipun terlintas di pikiran. Jadi PNS, Guru atau Dosen adalah cita-cita lumrah yang keluarga, tetangga dan lingkungan sematkan pada Syabli kecil. Namun, ada satu paradoks yang sering mucul dalam hati kecil Syabli. Dia tidak mau jadi guru karena hidupnya susah, dia juga tidak mau jadi PNS karena setiap hari dia harus ikut aturan instansi.

Bisa kamu bayangkan, apa yang Syabli lakukan ketika pertama kali mengalami masalah keuangan ketika kuliah? Ya, dia akhirnya lebih memilih untuk berhemat; tinggal di masjid. Dia memilih profesi seputaran jasa; jadi tukang cukur, jadi wartawan, jadi guru privat!

Dia memang nggak cocok jualan, dia nggak cocok bisnis!

Tapi pemahaman itu sekarang berubah, dan itulah tujuan tulisan ini, Semua orang cocok untuk bisnis, SEMUA ORANG BISA BERBISNIS!!! (degan tiga tanda seru).

Awalnya aku juga tidak mengerti, kenapa akhirnya malah terjun di dunia bisnis. Dari orang yang skeptis, tidak punya ilmu, tanpa pengalaman. Pada mulanya terpaksa, kemudian menikmati dan sekarang menjadi sebuah profesi.

Kadang aku juga bertanya, kenapa dari seorang dekan di sebuah universitas swasta tiba-tiba berubah merintis bisnis? Apakah kalau sudah pegang uang, lupa segalanya? untuk menjawabnya, ada satu hal yang menuntut penjelasan lebih lanjut, Kenapa Aku Menikmatinya?

Bisa jadi ada yang terjun bisnis karena tidak ada pilihan lain, tapi berapa banyak orang yang sudah mendapatkan pekerjaan mapan, masih saja tidak menikmati pekerjaannya dan tetap saja bertahan karena tidak mau keluar dari zona nyaman.

Aku tidak menulis ini untuk menyuruhmu keluar dari pekerjaanmu, aku hanya ingin meyakinkanmu bahwa tidak ada yang namanya orang tidak cocok bisnis.

Kalau kesimpulannya seperti itu, kenapa banyak orang gagal ketika mencoba bisnis?

Karena menurut saya, orang yang gagal tidak menggenapkan DUA (2) Syarat Sukses Masuk di Dunia Bisnis. Itulah alasan kenapa Bapakku gagal jualan tembakau, itulah alasan kenapa aku terlambat masuk di dunia bisnis, itulah juga alasan kenapa kamu merasa tidak cocok di dunia bisnis sampai sekarang, dan alasan kamu selalu gagal ketika mencobanya

Penasaran dua syarat sukses bisnis ala-ala pemahaman baca saya selama ini? Silahkan komen di bawah, kalau banyak yang komen saya semangat nulisnya 🙂

Jangan Percaya

Kau yang bersandar mendekap lutut di remang senja, duhai penyendiri.

Bertemankan anggukan dan senyum singkat, kau berlabuh mengarungi kerasnya dunia manusia yang penuh gema, kau bising dengan jiwa yang tak lagi kokoh, mungkin tulang punggungmu tak lagi tegak, terkeropos cecar dan juga lumut hijaunya lipstik, mengecup kemudian menjamur.

Di kedalaman senyap kau mengiba, hanya bisik yang kau dengar, tentang ketidak becusan akan dikari, kuncup dalam lubukmu merunduk bak putri malu yang terlecehkan semesta, ia menangis dalam runduk. Tanpa suara hanya lirih mengelilingi dada.

Hujam kata mengata ia hampa, tapi ledakan seakan menggemuruh, mencipta gempa berupa luka dalam qalbu, mengaga asa, berurai merah melabuhkan sungai kecewa, bermuara sepi berpangkat letih. Membawa ia pada pojok remang berpeluk dua kaki yang menekuk.

Oh, dosakah mengharap jika kau ada di dalam sumur yusuf, seutas timba, uluran roma yang mengulum senyum walau sekecil utas benang, semoga ia menyampai relung menggenggam hentak, laksana gelombang jatuhan daun di danau tenang, ia kecil bahkan sangat kecil, membesar kemudian membangkitkan.

Oh, diri dalam kesendirian, itu juga menjadi tombak untuk kau menunjuk langit, bahwa darat tak serupa genggaman, ia mudah lepas tak perlu kau jadikan ikatan. Lepaskan ruhmu ke langit biarkan hanya jasadmu menari di bumi. Jangan sampai lagu tercintamu merantai kakimu, membelenggu juntai citamu. Jangan sekali kali jangan, karena kau kan kecewa.

Selimut Pekat

Hi gelap,

Kenapa datang menyapa terus; Aku sudah lelah, sangat lelah.

Tatap mata antara iba dan sedih menusuk dadaku. Kau tahu pasti, komentar sinis dan serangan bertubi tidak pernah bisa mengenaiku. Tapi jantungku sangat lunak dalam lingkaran terdalam, sebuah bayang senja di pelupuk mata bisa membuatku memeleh air mata.

Senyum mungil juga seakan mengiba, akan apa masa depan serupa tabir, yang tak kan terkuak tapi telah robek lebih dulu dengan penghianatan akan janji. Ya, aku mulai mempertanyakan jiwa, tentang kehadiranmu yang tak kunjung menjadi rupa.

Oh gelap,

Menyingkirkanmu sesulit selimut pagi di subuh dingin sebakda hujan tadi malam. Kan mudah bagi orang yang bermimpi buruk, tapi sulit untuk yang menikmati mimpi. Mungkin mudah untuk para penunjuk jalan berkepal cahaya, tapi saat ini, aku berantaikan engkau wahai gelap. Bisakah engkau melipir barang tiga kedipan mata, agar sinar itu bisa membangunkanku dengan segera.

Lingkaran diam di sekitarku mulai menunjuk tanda, bahwa lapis demi lapis menunjukkan aku telah jatuh lebih dalam, dalam samudera yang kian pekat. Tanganku meronta menunjuk langit, tapi hatiku mengecap beku.

Apa kabar tentang terbang. Itu sepertinya bayang yang telah lama buyar. Entah pernah ada atau sudah pudar. Mengingatnya mengiris kepekaan hati. Tangisannya meraung seperti sirine tanpa suara. Hanya kedip antara hidup dan mati, makin redup makin redam.

Apa kabar munajat, tentang dia yang begitu pongah. Untuk hanya sekadar membuka telapak, agar tapak kuat memijak. Tahukan engkau makna ketinggian yang menjatuhkan? Kala ucap tak lagi terlisankan dalam bentuk ketundukan hati dalam kesadaran akan kelemahan. Dalam letup kata meminta tolong. Dalam keselarasan lidah mengikuti jiwa yang menyerah.

Hi gelap,

Menyingkirlah satu atau dua hasta agar pandanganku bisa melihat salju yang turun di kejauhan dengan kristal yang meleleh menerpa telapak tangan. Dingin yang menyejukkan impian. Oh gelap, pergilah sebentar, biar ku dekap doa-doa terkasihku. Awan teduh yang selalu menghalau bayangku tanpa pernah aku syukuri.

Aku disini kembali mengetikkan kata, untuk kembali mengeja, adakah rima yang masih menyala, untuk ku rangkai menjelma lentera, dalam redup yang kian menyiksa.

Day 5: Dua Rasa Satu Hati

Coba pejamkan mata sejenak dan dengarkan suara-suara di luaran sana malam ini. Saat saga merah menggelap, awan-awan putih mulai bergelanyut dalam dekapan remang, tersisa langit dengan bintang dan belum mulai menunjukkan kedipannya. Coba dengarkan, alam sedang menggema takbir. Kau akan mendengar di sebalik suara kembang api yang menghujani langit dengan percik warna-warni, ada seucap akan kecil yang mengangungkan Tuhannya. Di belakang petasan yang bersahutan mendengung gendang telinga, ada lirih tua yang melafal nama-nama Tuhan. Kala masjid-masjid mulai memantulkan echo ke seluruh penjuru negeri, ada dua perasaan yang sedang berenang dalam kejerihan jiwa kaum muslim, suka cita akan Ramadhan dan sedih rindu akan Syawal.

Sekarang buka mata dan cobalah berjalan menembus kota. Bawalah anakmu juga keluarga. Larutkan ia dalam suasana memulai malam dengan cara berbeda, berbeda dari malam sebelumnya. Biarkan matanya berbinar dengan banyaknya kaki yang membanjiri jalanan, tangan-tangan menggenggam obor yang dari jauh kelihatan seperti konser, dan replika masjid penuh kerlip mejikuhibiniu yang berarak dipikul para pemuda yang penuh senyum bangga akan karyanya. Biarkan telinga anakmu penuh dengan lafaz Agung yang tak hanya ia dengar dari mulut ibu dan ayahnya. Biarkan, biarkan hatinya memantapkan pikiran bahwa sepenjuru bumi sedang membantu ayah dan ibunya mendendangkan lagu paling megah tentang kebesaran Tuhan.

Ketika itu terjadi, coba ingat-ingatlah malam hari sebelumnya, kesejukan dan lantunan ayat sebakda sholat magrib, maka kau akan temukan sebuah pertentangan di lubuk hatimu. Antara sinar senyummu bersama anakmu dan semilir hati rindu pada dia yang tak tahu akan bertemu lagi. Itulah tanda Ramadhan telah pergi dan Syawal sudah duduk bertamu di teras rumahmu.

Kala dingin meninggi dan dekapan malam kian rapat, baringkanlah anak-anakmu. Keceup kening mereka agar siap menghadapi gempita esok hari. Berlaku juga padamu seharusnya. Sebelum mata memejam, tanya telah siap menantimu esok hari. Apakah kau sudah siap? Perayaan esok hari bukan hanya pertanda kemenangan, tapi juga dentuman mercusuar penanda perang besar telah mulai lagi. Hatimu menggamit dua perasaan sekaligus; buncah bahagia dan degup cemas, meriup raya dan mendebar harap.

Sayangnya, pertempuran tak melulu menunggu pagi. Dengan namaMu aku hidup dan aku mati, kata doa sebelum lelap. Memasuki alam bawah sadar pun membutuhkan namaNya untuk tetap tersadar, tentang makna hidup dan juga kematian. Sudahkah kamu benar-benar menjadi raja akan dirimu sendiri, kala bangun di pagi hari menatap masa hanya sebatas uji. Menjalani fana tanpa lupa asal sana. Mengarungi bahtera sementara dengan berpandu bacaan paling berbintang yang berasal dari KalamNya. Membentur pasang dan surut, air mata dan tawa, tinggi harta dan rendah papa, genggaman teman dan dekap sendiri. Semuanya dengan menatap satu pintu; Pulang.

Esok hari setelah membuka mata dan pagi membuka nafas, bacalah dengan hati penuh yakin; Terimakasih Allah, Kau telah menghidupkan aku setelah matiku, dan aku berharap Kau akan menuntunku untuk kembali kepadaMu. Kau boleh mempunya dua perasaan, namun tetap saja, ia masih dalam satu hati. Dan tentu kau paling mengetahui siapa maha penakluk hati.

Bangunkan anak-anakmu, siapkan mereka menyeka kelambu mentari, menghadapi tantangan baru dalam dunia permainan ini, semoga hati-hati kalian akan terus menyatu dan saling menguatkan hingga tiba saatnya matamu terpejam dalam waktu yang lama, sementara mereka menyitir sabda; Sesungguhnya dari Allah dan hanya kepadaNyalah kami kembali.

 

Day 4: Pulang

Aku merasa kesepian ketika semua orang membicarakan pulang. Bukan karena semua orang meninggalkanku atau karena aku tak punya tempat untuk merayakan kepulangan, hanya saja, ada satu lembah kosong yang menyeruak dalam hingar bingar pertemuan kembali ini.

Ada banyak pilihan makna dalam kata pulang, masing-masing orang menyerahkan kepada hati untuk memilihkan. Bahkan orang yang tak sempat menikmati kepulangan memberi arti dengan cara dan ucap rindunya.

Ini adalah masa untuk genggam erat, peluk hangat dan juga kecup kening keluarga kata yang satu. Yang lain berkata ini adalah hari dimana dosa meleleh beriringan dengan senyum yang mengembang di setiap rona. Tak ketinggalan ada yang berbahagian karena hari ini akan menjadi hari-hari penuh lemak, koresterol dan juga manisan.

Menelisik kesemuanya, ada satu garis merah yang merajut tiap bentuk makna di atas. Adanya sebentuk rindu tuk kembali.

Lontong opor kembali marak, kue kering kembali bermunculan bermacam rupa, karena orang-orang merindukannya untuk kembali hadir. Peristirahatan terakhir beramai pengunjung, rumah tetua berkerumun, tetamu silih berganti mengucap salam, jabat tangan yang hilang setahun lamanya bersua lagi. Kesemuanya itu adalah sebuncah kristalisasi rindu tuk kembali; entah kebersamaan, rasa dan juga memoria.

Di atas semua itu, ini adalah bentuk perayaan yang mulia. Pernyataan lantang tentang kerinduan jiwa-jiwa akan kesucian yang telah lama hilang.

Di titik inilah aku menjadi begitu kesepian, karena mungkin jiwaku yang merindu, tak menemukan kembali mahkotanya yang telah terlarut dalam lautan hitamnya dunia. Dalam perayaan ini, ia menangis dalam hati. Keinginannya untuk pulang begitu menggebu, namun tak kuasa ia hanya bisa tergagu.

Kesempatan hampir pergi seumpama detik detik terbenamnya sinar matahari. Hanya tersisa sedikit saja dari cahayanya. Temaram  dan banyang-banyang mendekat dan semakin dekat. Dalam tiap helaan nafas dekapan gelap kian erat.

Mentari ramadhan kian menjauh dan redup. Hadiah waktu terbesar baru saja aku lewatkan dengan pongah. Berprasangka umur masih sejagung, padahal ajal tak mengenal jenjang. Kepulangan hakiki, yang pasti terjadi, selalu mengintai tak memastikan hari.

Oh jiwa yang tenang, pulanglah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi, kata kitab suci mengingati. Kepulangan seperti inilah semua cari. Oh, betapa indahnya sebaik-baik perpisahan seperti ini, sepurna-purna pulang.

Malaikat bertamu dengan sunggingan senyum, sudah tiba waktu bertemu, katanya pelan. Ruh melerai raga, amat sangat sakit tapi hamparan taman yang dijanjikan menuntas rela. Pintu gerbang perjumpaan dengan Pencipta segera terbuka, rindu diatas segala rindu tertunai segera.

Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu. 

***

Aku merasa kesepian bukan karena semua orang membicarakan kepulangan. Namun ramadhan telah pulang dan aku belum menemukan jiwaku pulang. Ia masih sibuk dalam pengembaraan duniawinya. Ramadhan telah pergi sementara jiwaku semakin jauh tersesat pergi. Ramadhan mengucap salam akan tetapi jiwaku belum menemukan keselamatannya. Ramadhan melambai tangan sementara jiwaku tertawan pergi, menatap punggungku yang menjauh.

Aku merasa kesepian bukan karena tak punya tempat pulang. Namun jalurku semakin jauh dari peta tuntunan. Petaku berubah-ubah sementara sisa tenaga terus berkurang. Lajurku berkelok sementara bahan bakarku semaakin menipis. Aku tersesat sementara perbekalanku semakin mengempis. Parahnya, jiwaku meronta menunjuk kompas yang bernas, tapi dosa menulikan pendengaran, mengaburkan penglihatan, dan mengeruhkan hati.

Aku takut…. Aku takut perjalananku tak sampai pada rumah sesungguhnya.

Day 3: Little Girl That Has No Name

Hai gadis kecil,

Kau datang tanpa rencana tapi kami berbahagia. Dalam persimpangan keputusan tentang masa yang di depan, kau tiba-tiba muncul. Tangan mungil yang baru terbentuk itu menggenggam tanganku, “Ayah, mau kemana?”

Cukup dengan hanya tahu kau ada di sini, mengingatkanku untuk merenda ulang pita hidup yang telah berputar, untuk digulung ulang sehingga siap untuk menyanyikan lagu yang baru.

Aku tidak ingat pastinya aku tahu kau ada, namun malam-malam yang menyelimuti hari, semakin sering membuat ibumu kepayahan. Itulah tanda kau sedang berjuang untuk menjadi.

Hai gadis mungil,

Maafkan persiapanku yang tak pernah sempurna. Takdir telah menyuruhmu untuk bertemu denganku. Tidak ada yang tahu apa tulisan yang ada di baliknya, kami di sini hanya akan berusaha untuk menjadi tempat persinggahan duniamu, untuk nanti kau siap untuk bertemu kembali dengan penciptamu.

Perlu kau tahu, sudah ada dua pangeran kecil yang telah menanti untuk bermain denganmu. Memang, kami belum bisa memberikan yang terbaik untuk mereka, namun kami sedang belajar dan terus belajar, agar nanti, kala kalian sedang menapak tangga kesuksesan dunia dan akhirat, kami berdua selalu ada di samping kalian.

Oya, kamu mungkin belum kenal dengan dua pangeran itu. Putra mahkota pertama namanya Adzka, kau boleh memanggilnya Abang Atta. Dia sedikit pemalu tapi sangat penyayang. Ketika pertama kali bertemu nanti, ia pasti hanya akan melihatmu dari kejauhan. Tenang saja, itu hanya sebentar. Jika kau sudah merebut hatinya, ia tak henti-hentinya akan mengajakmu bermain.

Pangeran kedua namanya Azfar, kau boleh memanggilnya Abang Affan. Dia memang sedikit cuek, tapi hatinya sangat lembut. Ia selalu sibuk dengan keaktifannya, sehingga mungkin kau tidak akan langsung menjadi magnet hatinya. Akan tetapi kalau kau bisa meraih kepercayaannya, kamu akan menjadi sahabat terbaiknya seumur hidup.

Gadis kecilku,

Hari-hari ini aku kasihan sekali melihat ibumu. Ia sungguh kelihatan letih menantimu, ditambah lagi keinginan kuatnya untuk terus berpuasa. Saat aku bertanya “Apa yang bisa kubantu?” dia hanya menyungging senyum, “Berdoa saja,”

Kapan kamu lahir nak? apakah esok, lusa ataukan malam ini?

Jauh-jauh hari satu tas besar telah ibumu siapkan untuk dibawa ke bidan jaga-jaga kalau kau mau segera bertemu. Ssssttt, ini diantara kita saja, sebuah nama juga sudah ia persiapkan untukmu. Nama yang cantik menurutku. Biasanya aku yang sibuk mencari Nama untuk para pengeran, tapi karena kali ini akan ada putri cantik, biarlah ibumu yang memilihkan.

Apa? kamu penasaran ya… Maaf, aku belum diperbolehkan memberitahumu. (Makanya cepet keluar ya, hehehe)

Gadis mungilku,

Kamu akan memberikan warna baru di rumah kecil kami. Kami belum tahu apa warna kesukaanmu, tidak mengerti bakat dan juga keinginan terbesarmu. Kami hanya bisa memberikan keyakinan bahwa kami ingin menjadi seperti seorang pekebun bukan pemahat. Kami ingin menjadi orang yang selalu berada di sampingmu, merawatmu sambil menikmati bungamu berkembang dan merekah. Kami tidak ingin menjadi seorang pemahat yang memikirkan bentuk dan menumpahkannya padamu.

Wahai gadis mungil tak bernama, Ada satu permitaan sebelum kita bertemu, mudahkan perjuangan ibumu ya. Jangan biarkan ia terlalu lama menderita, bersegeralah untuk bertemu kami, jangan kamu tunda-tunda. Apa kau tidak ingin lahir di bulan mulia ini?

Gadis cantik yang belum bernama, sehat-sehat di sana ya, kami semua mengucapkan selamat datang dan sampai bertemu senyum dalam waktu yang tak lagi lama.

=========

That’s 500 Words, See You Tomorrow

Day 2: 42% of My Life

Seorang penulis memulai dengan meniupkan nyawa ke dalam karakter-karakternya. Tetapi, jika Anda beruntung, merekalah yang meniupkan nyawa ke dalam diri Anda. -Caryl Phillips-

Hari ini adalah tentang diriku. Ya, aku berumur tepat 30 tahun hari ini. Mungkin ini terdengar biasa dan paling buruk terkesan tua sebagai bagian dari generasi millenial.

Kita coba dengan perspektif yang lain.

Seumpama jatah umurku adalah 70 tahun hidup di dunia, maka angka 30 tahun dalam persentase akan muncul angka 42%. Astagfirullah!!! Aku hampir menghabiskan setengah jatah umurku. Kalau diumpamakan air dalam gelas, jatah minumku hanya tinggal setengah lebih sedikit.

It’s time to look back! What I have done with my life?

… … …

(Baru 100 kata yang aku tulis dan pertanyaan ini begitu menyengat sampai aku tidak tahu harus menuliskan apa)

In my head, questions are spinning. About contribution, legacy, family. What I have left?

Sejujurnya, cukup sedih ketika tidak satupun jawaban yang memuaskan muncul. Apakah memang hidupku banyak kesia-siaan? Seumpama anak yang telah terlalu lama bermain dan lupa pulang? ataukah Seperti Pengembara yang pergi meninggalkan rumah untuk mencari kehidupan yang lebih baik, namun sayang, kehidupan di luar sana mengubahnya menjadi pribadi yang lain, dan ia masih saja mencari tentang arti kebahagiaan? Padahal kebahagiaan itu ada dalam perjalanan yang ia tempuh untuk pulang.

Mari kita telisik beberapa; spiritual, karir dan keluarga.

Dari segi agama, terlalu banyak target yang ingin aku kejar tapi tidak pernah bisa. Keimanan yang lebih banyak turun daripada naik. Menghafal Quran contoh saja. Waktu SMA pernah sempat menyentuh 4 juz, sekarang tinggal sisa-sisa. What a Shame! Astagfirullahal’azhim. Padahal jauh dalam lubuk hati terdalam, kedekatan dengan alquran bisa memperbaiki kehidupanku. Aku mengalaminya tapi tak terus mengamalkannya. Aku harus memulainya, lagi, lagi dan lagi.

Bagaimana tentang karirku. Sampai hari ini, aku belum tahu harus menjadi apa secara professional. But wait? Kalau menurut Jack Ma, 30 to 40 adalah waktu untuk memfokuskan beberapa keahlian sampai akhirnya nanti 40 menjalankan satu tanpa berpaling lagi. I need to pick two or three options to struggle with for the next ten years.

Dalam lingkup keluarga. Ada banyak hak-hak yang belum tertunaikan dengan baik. Dalam diri Istri ada hak, dalam diri Orang Tua ada hak, dalam diri adik-adik ada hak, dalam diri mertua ada hak, dan terlebih lagi dalam diri anak-anakku ada banyak hak. Kesemua hak itu menuntunku untuk berbenah dan terus memperbaiki diri, menegakkan pundak dan membagi waktu secara adil. Belajar, belajar dan terus belajar.

Mungkin tiga hal di atas terdengar egois dan individualistis. Ya kau benar! setelah menuliskannya aku juga merasa demikian.

Senyatanya, di atas semua itu, ada hal Allah dan Rasulnya untukku menjadi pribadi yang bisa meninggalkan dunia ini lebih baik dari saat aku kunjungi pertama kali, 30 tahun lalu. Apa bentuk dan wujudnya? aku sendiri belum tahu. Siapapun yang membaca ini, berdoalah untukku. Tolong! Semoga dalam waktu yang tidak lama lagi, dalam sisa umur yang ada, aku bisa memberikan hal positif sebelum menutup mata.

Penutup tulisan ini, mengutip kata-kata Caryl Phillips di atas, pribadiku yang sebenarnya mungkin tidak persis sama dengan apa yang aku tuliskan di sini. Aku hanya sedang berusaha, setiap hari untuk meniupkan nyawa ke dalam karakter dalam tulisanku. Berharap, aku menjadi orang yang beruntung, merekalah yang akan meniupkan nyawa ke dalam diriku, setiap hari!

That’s 500 words, see you tomorrow!

 

 

Day 1 : The Beginning

Aku tertarik dengan ide ini ketika melihat video Nas di facebook, Pemuda Palestina jebolan Harvard yang tinggal di Israel. Nasdaily nama projectnya. Ia membuat video berdurasi satu menit setiap hari dan menguploadnya di facebook. Menarik, kataku dalam hati ketika menonton beberapa videonya.

Ide ini semakin menjadi ketika aku berkunjung ke Gramedia Lombok. Honestly, I felt lost at that time. Aku sedang dalam kondisi butuh asupan gizi dari bacaan yang mencerahkan. Tapi hampir setengah jam berkeliling, aku terduduk playground di kursi balita mungil tempat anak-anak bermain. Di sebelah kiriku ada rak buku Self Improvement. Banyak sekali yang menggoda untuk dibaca.

Namun, aku ragu untuk mengambilnya. Aku berpikir sudah terlalu banyak mengambil referensi meditasi, pengembangan diri dan spiritual dari para penulis barat. Ini kan bulan ramadhan!?

Aku melihat di rak sebelah kiri, karena ini bulan puasa, seakan rak buku laris dipenuhi dengan kitab-kitab klasik. Mulai dari Al-Umm karya fenomenal Imam Mazhab Syafi’i sampai Al-Hikam karya sufistik Ibnu Athoillah. Ada dorongan untuk memboyongnya pulang. Tapi aku bergeming. Ada perasaan bersalah ketika Buku Hadist karangan Imam Bukhori yang jilid pertama pun tidak bisa aku selesaikan. Entah karena memang bahasa terjemahan tidak bisa menandingi bahasa aslinya, bahasa arab, dan juga karena aku sendiri tidak bisa membeli buku otentiknya karena keterbatasan bahasa.

Yang terjadi akhirnya, aku hanya duduk membersamai dua anak kecilku, Adzka dan Azfar yang asyik memainkan lego yang disediakan Gramedia. Di tengah kebengonganku, istri bertanya, “Mau buku yang mana?”

“Mungkin aku butuh menulis untuk memaksaku membaca lebih banyak.”

Semenjak sibuk dengan dunia kerja, sepertinya rutinitas menulisku menurun sampi titik nol derajat. Sampai-sampai istriku protes, kenapa setelah menikah tidak pernah ada tulisan lagi. Aku hanya menjawab dengan senyum tanpa kepastian.

Seorang laki-laki yang menikah akan masuk dalam zona nyaman (seorang trainer keluarga asal Yogya pernah bilang). Memang ada benarnya, ketika masih jomblo, kegelisahan pasti ditumpahkan ke dalam tulisan. Segala penderitaan dan kenelongsoan akan menjelma kata-kata. Akan tetapi, pasca ada teman berbagi, sepertinya mengetikkan jemari di keyboard tergantikan dengan bercerita kepada pasangan.

Akibat buruknya, terlalu lama dalam zona nyaman mengikis sensitifitas, malas berpikir kritis, enggan untuk mencari bacaan baru, juga lalai akan pembelajaran-pembelajaran kehidupan.

“Jadi, mau ambil buku yang mana?”

“Honey, aku ingin buat situs pribadi.”

Ada sedikit kerutan dalam nada pandang istriku, masih tak mengerti akan jawabanku.

“Aku ingin menantang diriku untuk menulis setiap hari, minimal 500 kata.”

Ia tersenyum. Mendukung.

Dan inilah tulisan pertama yang saya beri judul the beginning. Ada banyak ketakutan yang bermunculan seperti banyang-banyang. Bisakah aku konsisten, bisakah menulis sebanyak itu, apa tidak dikurangi saja jadi 300 kata, apa yang harus aku tulis … … …

Buku pertama yang aku baca kembali untuk memulai project gila ini adalah Berani Berekspresi karangan Susan Snaughnessy. Buku ini sering sekali membantuku ketika mengalami kebuntuan menulis.

Pada halaman pertama ia mengatakan;

“Menulis bisa terasa seperti berjalan di awang-awang…. … … Kita adalah para penulis yang mengawali setiap hari dengan berjalan menuruni tebing, sambil berwaspada kalau-kalau ada buaya di bawah sana. Namun demikian, kita terus menulis; dan tidak jarang kita menyukai apa yang kita tulis. Tempat gelap menjadi tidak terlalu gelap ketika tiba di sana. Hanya berjalan ke sanalah yang menakutkan.”

That’s 500 Words, See You Tomorrow!