Muda. Berdaya. Karya Raya!

Saya tidak akan membahas isi buku ini lebih detail. Yang saya pahami, membaca buku Fahd yang ini, saya merasakan sebuah kejujuran. Bukan berarti bahwa buku-bukunya yang lain tidak jujur, hanya saja buku ini rasanya seperti sebuah pengungkapan cerita tentang Fahd apa adanya, tidak mencoba menjadi seorang cendikiawan, seorang penyair atau seorang filsuf.

Karena tidak membahas isi, izinkan saya hanya mencoba menuliskan memori tentang penulisnya. Meskipun tulisan ini akan terkesan seperti sok kenal dan sok dekat. Tak apalah, ini sebagai bentuk ungkapan kenangan seorang penggemar saja.

Saya pertama kali bertemu Fadh pada saat ospek universitas Muhammadiyah Yogja. Kita sama sama satu jurusan, Hubungan Internasional. Saya tidak ingat pastinya, sepertinya kami berada di kelompok yang sama.

Satu kesan pertama yang saya dapat adalah; wah anak ini penampil. Ia ingin selalu jadi yang terdepan dalam setiap diskusi atau tanya jawab. Kalau tidak salah “cita-cita jadi presiden RI” adalah kalimat yang ia ucapkan setelah menyebutkan nama ketika panitia memintanya memperkenalkan diri.

Tapi ada satu momen yang cukup membekas di saya, saat dia mengajarkan saya cara mengikat dasi. Ya, pasang dasi di leher adalah satu hal yang tidak pernah saya lakukan dan itu adalah kali pertama dalam hidup saya mencoba dan entah kenapa setelah malam sebelumnya belajar di internet, selalu gagal. Akhirnya dialah yang memasangkannya di leher saya.

Setelah itu hidup perkuliahan kita jarang bertegur sapa bahkan mungkin hampir nggak pernah, karena kita beda kelas dia kelas A saya kelas D. Pernah sepertinya saya melihat Fahd ikut mendaftar ke Unit Kegiatan Mahasiswa SEA (Student English Activity) tempat ngumpulnya mahasiswa yang suka bahasa dan kegiatan berbahasa Inggris. Waktu itu banyak sekali yang ikut seleksi wawancara tapi penerimaan terbatas, hanya 30 atau 50 orang kalau saya tidak lupa. Dan ketika ospek UKM tersebut, saya tidak mendapati Fahd. Entah dia mengundurkan diri atau memang tidak lulus, saya tidak tahu. Namun, saya yang lulus pun waktu itu cuman bertahan sebulan berkegiatan di sana.

Persinggungan saya kembali dengan Fahd adalah ketika saya menemukan kumpulkan tulisan yang dijilid rapi kepunyaan kakak kelas saya jurusan Ilmu Komunikasi, judul tulisan itu adalah Magnum Opus yang ternyata adalah tulisan-tulisan Fahd. Wah, saya baru tahu kalau anak itu adalah seorang penulis.

Sejak saat itu saya mengikuti tulisan-tulisan Fahd. Mulai sari buku yang ia terbitkan waktu SMA berjudul kucing, sampai tulisan-tulisannya di majalah kampus terbitan IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah).

Secara tidak langsung, tulisan-tulisan Fahd mempengaruhi gaya tulisan saya. Saya sering mencoba meniru gaya tulisannya saat saya cari makan lewat kirim opini di koran, bahkan saat saya menjadi Pimpinan Umum majalah Bening (majalah UKM Rohis di kampus).

Begitulah, Fahd semakin terkenal di kampus dengan semakin aktifnya dia berkegiatan di bidang creative, seperti Sahabat Perpus (ini ingatan saya agak kabur yang jadi ketuanya Fahd atau bukan, hehe) dan juga kegiatan kemahasiswaan lainnya. Waktu itu saya menjadi bagian dari Humas Universitas, nyari makan dengan jadi wartawan kampus, digaji 500 sampai 700 ribu sebulan. Seringnya adalah Fahd adalah target incaran slot berita saya. Karena saya ditugaskan untuk mendapatkan dua berita setiap hari. Kalau dia ngadain kegiatan, saya ikut nimbrung untuk dapetin berita. Fahd buat talkshow, saya cuman dateng untuk ngutip kata-katanya dan balik lagi ke kantor humas buat nulis beritanya untuk dikirim jam 12 teng ke semua email koran lokal dan nasional pada waktu itu.

Itulah segelintir pertemuan saya dengan Fahd, saat ini saya hanya sebagai penikmat tulisan-tulisannya lewat buku, terus berkarya Fahd! Dari teman yang mungkin sudah tidak kau kenali lagi. hehe :). Oya, denger-denger lo mau nyalon jadi walikota TangSel ya, Good Luck Bro!

Published by

Syabli Muhammad

yang lagi belajar :)