Merek Sungsang

Buku ini mengacak-acak pemahaman saya tentang membangun sebuah brand.

Tadinya nih, saya pikir ini adalah jamannya jualan experience atau pengalaman. Nggak jamannya lagi jualan fitur, sudah bukan masanya lagi jualan benefit/manfaat. Seperti contoh Soto Gebrak, yang menjadi jualan utamanya adalah pengalaman deg-degan atau kaget ketika makan tetiba ada orang gebrak meja. Bukan lagi ngomong masalah enak karena itu suatu kewajiban, nggak lagi ngomong masalah kebersihan karena itu sudah keharusan.

Nah, tadinya saya berfikir, kalau bikin brand saya harus fokus untuk membuat pengalaman yang unik untuk pelanggan saya. Eh, ternyata…

Pemahaman ini sudah ketinggalan jaman. Owalah….

Setelah abad 19 orang hanya jualan fitur, orang yang menjajakan barangnya hanya mempromosikan fitur-fitur, 50 tahun kemudian orang mulai berpindah bukan lagi mempertimbangkan fitur jadi alasan utama membeli barang, tapi berpindah menjadi benefit. Oleh karenanya, para advertiser selalu mengkampanyekan manfaat diatas fitur.

Namun tidak berhenti di sini, puluhan tahun kemudian, orang mencari experience. Yang mana pemahaman saya berhenti di sini. Seba’da baca buku ini, ternyata sekarang zaman sudah berubah lagi. Orang sekarang setelah masanya experience, mereka mencari “meaning”. Apa makna yang mereka dapatkan ketika membeli suatu produk.

Apa pengaruh positif yang bisa saya dapatkan untuk diri saya dari membeli produk ini? Apakah ada dampak buruk bagi orang lain ketika saya memakai produk ini? Apakah perusahaan tempat saya membeli barang ini memperjuangkan nasib buruh dan pegawainya?

Kira-kira seperti itulah customer yang akan kita hadapai hari ini dan masa mendatang.

Selain pemahaman tentang customer, ada banyak lagi perkerjaan rumah yang harus saya benahi dari bisnis saya ketika saya memutuskan untuk membangun sebuah brand. Silahkan baca sendiri kalau kamu tertarik untuk membangun bisnis yang berfokus pada pertumbuhan brand.

Selamat belajar jadi brand owner!

Published by

Syabli Muhammad

yang lagi belajar :)