Man Up!

Dear Fia,

Cukup aku sayangkan tapi sepertinya kamu masih harus bersabar lagi. Setelah pembicaraan tadi malam, saya rasa suamimu masih belum menemukan titik baliknya.

Saya kira dengan kehilangan mobil, dia akan sampai kesimpulan, tertanya belum.

Saya kira dengan terlunta-lunta menumpang sana-sini , dia akan sampai pada pemahaman utuh ternyata belum.

Saya kira dengan melihat kondisi anak dan istrinya seperti saat ini, dia akan sampai pada keputusan bulat, ternyata belum.

Ternyata dia masih butuh waktu.

Ternyata dia masih butuh kekecewaan lain.

Ternyata dia masih butuh berbenturan dengan realitas lagi.

Ternyata kamu masih harus bersabar—menunggunya.

Aku tidak tahu namanya apa. Tapi yang pasti, pemikirannya belum satu. Dia selalu masih melihat ada belokan lain untuk menghindar sebentar dari masalah. Dia masih selalu mengharapkan sesuatu yang bisa menunda penyakitnya.

Pembicaraan tadi malam contohnya. Dia masih berharap selalu ada solusi yang tiba-tiba. Dia masih menunggu tiba-tiba ada perubahan drastis, seperti tiba-tiba jadi PNS, seperti tiba-tiba dapat Bisnis yang enak, seperti tiba-tiba jadi bisnis owner, seperti tiba-tiba dapat passive income, seperti tiba-tiba passionnya dalam bidang desain biar segera ia ubah jadi duit.

Memang, secara keimanan kita harus selalu yakin dengan adanya pertolongan Allah kepada hambanya yang beriman. Saya tahu bahwa dia yang kau saying sudah pasti sangat yakin akan hal itu. Tapi menurutku, di samping kita meyakini akan pertolongan Allah, kita juga harus mempelajari SunnatulLah, hukum alam yang Allah tetapkan.

Ini pemikiran saya yang realistis. Saya tidak berharap ini terjadi, tapi saya sampaikan ini, supaya kamu siap-siap.

Pertama, kamu harus mempersiapkan kos ini tentu saja jumlahnya jutaan. Kedua, menunggu itu menghabiskan biaya banyak, dengan menunggu kamu akan menghabiskan banyak biaya hidup sementara tidak ada income yang bisa kamu hasilkan. Ketiga, hutang yang belum selesai akan terus menghantui tiap bulan-bulanmu. Dari tiga komponen ini saja, kamu harus menyiapkan minimal 5 juta rupiah setiap bulan. Pertanyaannya, berapa tabunganmu sekarang? Berapa lama kamu bisa bertahan?

Belum lagi kalau kamu menambahkan biasa tes CPNS ke luar daerah, memperhitungkan ongkos, akomodasi dan waktu. Berapa biaya tambahan yang harus kamu keluarkan? Sudahkah kamu siap?

Usulanku untuk segera saja mulai usaha, mungkin terdengar tidak realistis dan menyakitkan.

Tidak realistis karena mungkin dia berpikir, bagaimana mungkin jualan es bisa membantu. Menyakitkan karena dia berpikir betapa merepotkan dan melelahkannya.

Tapi bagi saya itulah yang paling realistis, karena sesuai sunnatullah. Memulai dengan ikhtiar sempurna berupa tijaroh. Sekecil apapun itu, setelah melewati fase mengalami, maka akan ada jalan-jalan baru yang bermunculan, jalan yang mungkin tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya. Tapi ini tidak akan pernah datang, kalau kamu tidak memulainya.

Menyakitkan berupa capek, lelah dan merasa terhina? Ia memang harus! Karena itulah cara Allah untuk mengangkat derajat. Orang yang selalu mendapat kemudahan bisa jadi adalah cara Allah menghinakannya.

Terakhir, dia masih perlu banyak belajar untuk memahami dirinya sendiri;

Alasan ketiadaan modal, bisa jadi hanya sebuah refleksi dari ketidaktahuan saja.

Alasan mau langsung jadi bisnis owner, bisa jadi hanya sebuah permukaan dari bagian dalam diri yang masih penuh gengsi dan kemalasan.

Alasan tidak mau berpartner sama orang lain, bisa jadi hanya sebuah cerminan dari ego diri yang masih tinggi, dan biasanya beriringan dengan sikap susah menerima masukan.

Alasan mencari bisnis yang ia sukai untuk ditekuni, bisa jadi hanya sebuah jawaban klise untuk lari sejenak dari tanggung jawab.

Maafkan saya, saya tidak bisa membantu masalah seperti ini sampai ia menemukan titik baliknya. Guru saya bilang, Ilmu itu akan sampai ketika muridnya sudah siap.

Kita tunggu saja sampai ia benar-benar siap. Sebelum waktu itu datang, doakan dia dan bersabarlah!

Syabli
16 Februari, 2020

==============

NB: Catatan ini saya buat setelah tadi malam ada satu orang kawan yang curhat ke saya sedang menghadapi krisis perempat usia. Saya mau nasehati tapi sepertinya dia belum siap menerimanya. Jadilah saya tuliskan seolah-olah ini adalah surat untuk istrinya. Semoga jadi nasehat juga buat diri saya.

Published by

Syabli Muhammad

yang lagi belajar :)

4 thoughts on “Man Up!”

Comments are closed.