Jangan Percaya

Kau yang bersandar mendekap lutut di remang senja, duhai penyendiri.

Bertemankan anggukan dan senyum singkat, kau berlabuh mengarungi kerasnya dunia manusia yang penuh gema, kau bising dengan jiwa yang tak lagi kokoh, mungkin tulang punggungmu tak lagi tegak, terkeropos cecar dan juga lumut hijaunya lipstik, mengecup kemudian menjamur.

Di kedalaman senyap kau mengiba, hanya bisik yang kau dengar, tentang ketidak becusan akan dikari, kuncup dalam lubukmu merunduk bak putri malu yang terlecehkan semesta, ia menangis dalam runduk. Tanpa suara hanya lirih mengelilingi dada.

Hujam kata mengata ia hampa, tapi ledakan seakan menggemuruh, mencipta gempa berupa luka dalam qalbu, mengaga asa, berurai merah melabuhkan sungai kecewa, bermuara sepi berpangkat letih. Membawa ia pada pojok remang berpeluk dua kaki yang menekuk.

Oh, dosakah mengharap jika kau ada di dalam sumur yusuf, seutas timba, uluran roma yang mengulum senyum walau sekecil utas benang, semoga ia menyampai relung menggenggam hentak, laksana gelombang jatuhan daun di danau tenang, ia kecil bahkan sangat kecil, membesar kemudian membangkitkan.

Oh, diri dalam kesendirian, itu juga menjadi tombak untuk kau menunjuk langit, bahwa darat tak serupa genggaman, ia mudah lepas tak perlu kau jadikan ikatan. Lepaskan ruhmu ke langit biarkan hanya jasadmu menari di bumi. Jangan sampai lagu tercintamu merantai kakimu, membelenggu juntai citamu. Jangan sekali kali jangan, karena kau kan kecewa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *