Ikigai

Ikigai kita berbeda satu sama lain. Namun, satu hal yang sama adalah bahwa kita semua mencari makna.

~

Saya pertama kali lihat diagram Ikigai di Malang di acara Training For Mentor yang dibuat sama Mas Jaya Setiabudi. Waktu itu sesi materi tentang Lean Manufacuring disampaikan oleh Mas Arief si empunya Respiro, brand produsen lokal yang kalau nggak salah udah masuk juga jadi salah satu sponsor di MotoGP.

Akan tetapi waktu itu saya nggak tahu kalau Ikigai itu ada bukunya sendiri, saya cuman tertarik dengan konsepnya yang cukup menyeluruh, karena secara pengertian Ikigai itu pertemuan antara 4 hal (Gairah + Misi + Keahlian + Profesi = Ikigai). Sementara itu gairah dijabarkan sebagai gabungan apa yang kita cintai dengan apa keahlian kita; Misi sebagai perpaduan apa yang kita cintai dengan yang dunia butuhkan; belum lagi Keahlian dari kombinasi apa yang dunia butuhkan ditambah untuk apa kita dibayar. Dan tentu saja terakhir adalah profesi yang merupakan buah dari apa keahlian kita ditempa dengan untuk apa kita dibayar.

Memikirkan apa Ikigai dalam diri saya dengan melihat diagram itu aja bikin pusing, saat itu pemikiran saya masih cuman konsep dua dimensi sepertinya. Contoh pemikiran dangkal saya adalah, orang yang mengerjakan gairah (passion) dia dan dibayar karenanya adalah orang yang beruntung, itu saja. Nah, bisa menemukan satu hal yang mempertemukan gairah, misi, profesi dan keahlian saya kayaknya sulit nemunya, pikir saya dalam hati.

Akhirnya secara nggak sengaja lihat juga judul buku Ikigai waktu lagi maen ke Gramedia, ternyata internasional best seller juga. Jadilah saya angkut ke rumah.

Membaca lebih jauh buku ini, menemukan Ikigai adalah sebuah proses panjang untuk menemukan makna diri kita sendiri. Sembari itu, kita harus terus menghabiskan hari-hari kita dengan merasa terhubung bersama hal-hal yang berarti bagi kita, sehingga hidup kita menjadi lengkap. Karena ketika hubungan itu hilang, kita pun merasa putus asa.

Kehidupan modern semakin menjauhkan kita dari kesejatian hingga kita mudah untuk menjadi pribadi yang menjalani hidup tanpa makna. Uang, kekuasaan, perhatian dan kesuksesan selalu mengalihkan perhatian kita setiap hari. Bahkan sampai mengambil alih hidup kita.

Duo penulis buku ini, Hector dan Miralles, demi menyelami arti dan seni hidup ikigai ini telah mewawancarai dengan lebih dari 100 orang centenarian (orang berusia lebih dari 100 tahun) di Ogimi, sebuah desa di Jepang yang mendapat julukan Desa Panjang Umur (Village of Longevity). Karenanya, memang buku ini banyak berbicara tentang bagaimana menjadi bahagia dan panjang umur.

Tapi sebenarnya, menurut saya tidak ada yang istimewa mendengar cerita-cerita dari orang orang yang bahkan sampai berumur 120 tahun itu. Yang membuat mereka bertahan sedemikian lama hidup hanya hal-hal sederhana saja. Hal-hal yang terlalu sederhana sehingga kita jarang memperhatikannya bahkan menganggapnya remeh.

Contoh satu perilaku saja dan ini masuk menjadi salah satu dari 10 aturan Ikigai, yakni; Jangan penuhi perutmu!. Ini jadi prinsip soal makan untuk panjang umur.

Hal seperti ini juga sudah Rasulullah ajarkan dari ribuan tahun yang lalu, masalahnya kita yang tidak pernah prakek. Rasulullah mengajarkan kita untuk makan kalau lapar, dan berhenti sebelum kenyang. Lah kita! Bukannya sedikit makan, malah sedikit-sedikit makan.

Jadi sebenarnya membaca buku ini membuat saya merasa memang kita ini terlalu banyak mengisi hidup kita dengan sampah. Sampah pikiran, Seperti notifikasi hanphone yang kita tunggu tiap 30 detik. Sampah hubungan, seperti melihat orang lain hanya sebagai sebuah obyek mendapatkan keuntungan. Sampah keserakahan sampai ke sampah makanan seperti makanan cepat saji, kalengan juga makanan olahan yang kalau kita baca komposisinya lebih mirip nama-nama obat ketimbang nama makanan.

Akhirnya saya tutup tulisan ini untuk melanjutkan pencarian saya tentang apa Ikigai saya; apa passion dalam diri saya, bakat unik yang memberi makna pada hari-hari saya dan mendorong saya untuk berbagi yang terbaik dari diri saya sampai saat terakhir malaikat Izrail memberi kode… doakan saya segera menemukannya.

Tabik!

Published by

Syabli Muhammad

yang lagi belajar :)

8 thoughts on “Ikigai”

Comments are closed.