Goodbye, Things

Kita lebih sibuk meyakinkan orang lain bahwa kita bahagia ketimbang benar-benar merasakan bahagia itu sendiri.

– Francois De La Rochefoucauld

Pertama kali saya mengenal konsep hidup minimalis dari videonya Raditya Dika yang menjual semua koleksi jam mewah yang ia punya dan menyisakan satu saja. Setelah itu saya juga juga nonton film dokumenter berjudul “Minimalism: A Documentary About the Important Things”. Dari situlah beberapa kali mampir di Gramedia, beberapa judul buku tentang minimalis mencoba menggoda saya.

Sampai akhirnya kemarin saya memutuskan membeli karya Fumio Sasaki berjudul Goodbye, Things. Inilah pengalaman membaca saya tentang buku ini, lebih tepatnya kemana pikiran melayang berjalan ketika membacanya.

Buku ini sebenarnya hanya bercerita tentang seorang laki-laki 30 tahunan yang tinggal di apartemen kecil di Tokyo dengan tiga kemeja, empat celana panjang, empat pasang kaus kaki, dan sedikit benda-benda lain yang ia miliki. Lebih jauh buku ini membahas alasan mengapa ia memilih minimalis, meninggalkan maksimalis dan perubahan apa yang terjadi di hidupnya.

Dalam guratan tulisannya, saya bisa merasakan bahwa ia ingin mengajak kita, memaknai ulang tentang makna hidup. Fumio ingin mengajak kita lebih bahagia dengan mejadi pribadi yang merdeka, menikmati hidup, menjadi pribadi yang nyata bukan palsu.

Membaca buku ini kita akan menemukan persfektif baru pemaknaan terhadap apa-apa yang mungkin kita sudah tahu. Misalkan sebagai seorang muslim; saya pernah baca kisah hidup rasulullah dengan semua kesederhanaannya. Saya juga pernah membaca bagaimana kisah sahabat Rasul, contoh saja Umar yang menguasai hampir sepertiga bumi tapi masih juga pakaiannya lusuh.

Membacanya juga banyak sindiran-sindiran pada diri dalam hal terutama menumpuk barang, atau bahkan mengejar suatu barang. Saya ingat bagaimana saya pernah suka sekali terkait perkembangan gadget dan selalu mengidam-idamkan handphone keluaran terbaru. Sering sekali baca berita terbaru, nonton video-video riview di Youtube. Akhir-akhir ini sudah bukan handphone lagi tapi beralih ke mobil. Memimpikan mobil merk A, mempelajari fitur-fitur dan segala tentang modifikasinya padahal saya sudah punya mobil yang cukup baik performanya.

Ah, memang benar bahwa kebahagiaan bukanlah memiliki apa yang kita inginkan, melainkan menginginkan apa yang kita miliki.

Sebagai seorang muslim saya sudah sering mendengar ceramah tentang Qonaah, merasa cukup. Tapi memang dasar kita yang terlalu sering lupa. Konsep ini telah diajarkan waktu saya Madrasah Tsanawiyah dulu, namun dalam kenyataannya nggak seperti itu. Tanpa sadar, benih materialisme terus tumbuh dan menjalar di darah daging hidup saya.

Misalkan saja, dalam berbisnis masih saja serakah itu muncul. Saya pernah dalam satu waktu hanya memikirkan profit dan profit, tanpa memedulikan kesejahteraan karyawan, kepuasan pelanggan, juga keberkahan dalam proses. Saya lupa bahwa doa-doa dari mereka bisa mencelakakan saya di akhirat. Mungkin secara finansial kita bisa kaya dengan cara berbisnis seperti ini, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa sumpah serapah dari pelanggan yang murka, doa terdzolimi dari karyawan malam membuat rizki berupa kesehatan, keharmonisan, dan juga kebahagiaan mempunyai anak sholeh tidak pernah saya dapatkan, astagfirullah…

Perasaan serakah itu seperti monster dalam diri kita yang semakin kita kasih makan dengan harta-semakin besar ia menjelma. Kita belikan dia HP baru, seminggu minta lagi keluaran terbaru. Kita kasih makan dia dengan mobil bekas, dia minta kita untuk ambil hutang di bank demi mobil dengan tampilan lebih baru.

Setelah baca buku ini, saya ada nonton seorang penceramah dari Malaysia. Entah kenapa tapi yang ia sampaikan senada dengan buku ini. “Nanti..” kata dia seolah berbicara kepada jamaah yang punya hobi mengkoleksi barang mewah seperti mobil sport ratusan juta, lukisan harga milyaran, “Sebelum beli lagi, tolong tanyakan kepada hati masing-masing, Apa yang akan saya jawab kalau Allah tanyakan pada kita, untuk apa kita membeli dan pergunakan barang-barang itu?”

Sebenarnya bukan hanya tentang barang mewah saja. Baju-baju yang hanya mendekam di lemari sudah satu tahun, buku yang tergolek di lemari tanpa pernah tahu entah kapan kita akan baca, perabotan dapur yang berlimpah hanya karena kita menganggap akan ada banyak tamu datang tiap hari, atau lah tiga buah gunting di dalam rumah yang sebenarnya satu gunting pun jarang kita pakai.

Alhamdulillah, seba’da buku ini saya baca, ada beberapa gunungan barang yang mengucapkan salam perpisahan dari rumah saya.

Selaman membaca dan bersih-bersih 🙂

Published by

Syabli Muhammad

yang lagi belajar :)

4 thoughts on “Goodbye, Things”

Comments are closed.