Gitu-Gitu Aja!

Kau yang sedang menikmati makanmu di sana, sendirian!

Tidakkah kau ingat dulu, bagaimana ibumu membangunkanmu untuk makan sahur, saat dalam letih ngantuknya, membangunkanmu susah payah, karena kau tak mau beranjak dari sarang hangat selimutmu.

Bukankan dulu, ayahmu memanggil namamu berkali-kali, tapi kau hanya membali sekali, itupun dengan ucapan mengerang tanpa makna, tanpa niat untuk segera bangun.

Kau yang sedang asyik mengunyah daging di sana, sendirian!

Apa kau lupa bahwa keberkahan itu bukan hanya ada pada sahurnya, tapi juga kebersamaannya. Dalam duduk melingkarnya ada malaikat melihat. Dalam kantuk suap anak balitamu, ada pelajaran dan kenangan kan terpatri. Dalam doa sebelum dan sesudah kunyahan terakhir, ada keberkahan berlimpah.

Kau yang bilang, gitu-gitu aja di sana, dengan sendok dan garpumu, sendirian!

Mungkin kau mengira memang ini tidak berarti, tapi bagiku itulah keberkahan. Menghargai niat dia yang masih belia untuk belajar puasa dengan memberikan suasana puasa, bukan suasanya kesendirian dan kenyang sendiri.

Segelas susu hangat untuk membangunkan, bujuk rayu agak raganya tegak dan siap untuk menyantap, piring yang melingkar rapi menunggu setiap orang, doa bersama menyambut rizki dari tuhan, santap hangat dengan sesekali hikmah dan optimisme puasa, serta ajakan agenda ibadah kita hari ini, kemudian ditutup dengan doa atas rahmat.

Aku rasa itu tidaklah terlalu berat, kalau kau tidak memikirkan banyak alasan untuk tidak melakukannya.

Terakhir kali, kau yang kenyang sendirian di sana, sendirian!

Nikmatilah makanmu, jangan lupa, yang kau kenang ketika seseorang meninggal bukanlah uang atau makanan mewah yang ia berikan kepadamu, tapi tingkah laku sederhana melekat erat di memori inti kepala kita. Hal kecil seperti kecup hangat saat membangunkan sahur adalah salah satunya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *