DEWASA

Kapan Kita Dewasa?

Kapan kita benar-benar dewasa? Pertanyaan ini menyeringai lagi beberapa hari ini. Ada beberapa kejadian yang membangkitkan lagi pertanyaan ini;

Pertama, status seorang teman yang membagikan sebuah opini dari seorang psikolog terkait sudut pandang terhadap kasus Reynhard Sinaga, pemerkosa di Inggris yang kemarin heboh itu. Simpulannya kira-kira begini; Kecerdasaan seseorang yang kuliah master bahkan sampai Ph.D tidak berbanding lurus dengan tingkat kedewasaan. Bisa jadi dia sudah balig (istilah dalam islam yang artinya sudah dewasa secara fisik), tapi dia belum aqil (arti harfiah dalam bahasa arabnya adalah berakal, disini bisa kita artikan sudah dewasa secara pemikiran). Ada satu kalimat yang menyentak saya di tulisan itu, bahwa sistem pendidikan kita di Indonesia saat ini, masih belum mampu menciptakan manusia yang aqil balig, dewasa secara fisik, tingkah laku dan pemikiran. Buktinya, masih banyak orang yang berpendidikan tinggi, lulusan sarjana umur 30 masih juga labil mengambil keputusan dalam hidup. Kalah sangat jauh dengan pendidikan ala Rasulullah yang bisa mencetak seorang panglima perang seperti Usamah bin Zaid di usia 18 tahun, atau anak muda yang keilmuannya melebihi sahabat-sahabat senior seperti Ibnu Abbas yang ketika nabi meninggal berusia 13 tahun, namun telah meriwayatkan ribuan hadist.

Itu pemicu pertama, pemicu keduanya adalah anak saya yang pertama sudah berumur enam tahun lebih, juni 2020 ini sudah waktunya dia masuk sekolah. Ini memberikan beban pikiran tersendiri bagi saya selaku ayah. Pendidikan seperti apa yang akan saya fasilitasi untuk dia bisa mencapai kedewasaannya secara tepat dan tidak terlambat. Berkaca pada diri sendiri, lulus s1 masih bingung hidup mau ngapain. Bahkan saya sendiri baru merasa benar-benar dewasa secara pemikiran di usia 30 tahun. Sungguh terlambat.

Trigger ketiga adalah cerita istri tentang rumah tangga temennya. Keluarga ini lagi kesusahan hidup di kota besar, usaha yang mereka rintis gagal. Mereka sekarang terjepit beberapa tagihan kredit, sementara itu rumah kontrakan akan segera habis dan harus segera pindah karena tidak mampu bayar. Nah, dalam situasi seperti ini, opsi terbatas dan juga pilihan sikap harus benar-benar dipikirkan, apalagi sudah menyangkut beberapa anak balita yang jadi titipal Allah pada mereka. Singkat cerita, saya berimajinasi kalau itu terjadi di diri saya, apa yang harus saya lakukan. Nah, celakanya setelah saya cerita ke istri apa yang akan saya lakukan seandainya saya di jadi si suami, istri saya cerita bahwa temannya itu malah ingin pinjam uang untuk daftar CPNS. Sungguh diluar ekspektasi saya. Tiga hal ini membuat saya berpikir kembali apa dan kapan sebenarnya serta bagaimana kita tahu bahwa kita telah dewasa?

Menurutku, berdasarkan yang saya baca dari buku karya Mark Manson : Sebuah Seni untuk Bersikap Masa Bodoh, adalah ketika kita berani jujur kepada diri sendiri dan mengambil sikap untuk bertanggung jawab atas segala hal, yang baik terlebih lagi yang buruk yang terjadi pada diri kita. 

Ini lebih kepada sikap mental menurut saya, yang tentu saja harus diikuti oleh perilaku bertanggung jawab. Mudah bagi kita mengatakan kita bertanggung jawab, tapi hati tidak pernah bohong. Selama kita masih membohongi diri sendiri dan berharap ada sesuatu di luar sana yang akan menyelesaikan masalah kita, kita tidak pernah akan bisa bertanggung jawab.

Saya pernah dalam kondisi dimana uang tidak ada, pekerjaan lepas dan harus memenuhi kebutuhan istri dan tiga orang anak. Saat itu orang akan menganggap saya bertanggung jawab, karena saya “kelihatan” berusaha. Dan memang kelihatannya saya sedang berusaha semampu saya.

Namun, jauh dalam diri, usaha yang saya lakukan hanyalah sebuah kamuflase untuk membohongi diri sendiri bahwa saya sedang berusaha, nanti Allah akan membantu, nanti akan ada keluarga yang menalangi sementara untuk makan, atau nanti entah akan datang pekerjaan tiba-tiba seperti cerita-cerita ustadz kalau kita bersabar.

Eit… tunggu dulu. Pertanyaannya apakah aku benar-benar bertanggung jawab. Hei! Apakah hatimu sudah yakin, apakah usaha yang kamu lakukan sudah 100%? Ataukah hanya seadanya saja. Apakah kepasrahanku pada Allah hanya sebatas pengalihan tanggung jawab? Sudahkah kamu rencanakan langkahmu dengan benar, sudahkan kamu ilmui apa yang akan kamu perbuat? Semua ini ada sunnatullah atau hukum alamnya teman. Kalau kamu berusaha cari uang, tidak akan mungkin langsung jebret tiba-tiba datang banyak. Harus melalui proses, sudahkah kamu rencanakan prosesnya dengan benar.

Ah, semua itu bisa terjadi harus dimulai dulu dari sikap mental bertanggung jawab. Ya, aku saat ini sedang susah. Saya terima sebagai sebuah tantangan yang harus saya selesaikan sendiri, tanpa bantuan siapapun. Kalau pun ada bantuan datang itu hanyalah bonus dari Allah hasil dari doa orang-orang tersayang yang sedang kita perjuangkan. Dari sini akan muncul pikiran yang jernih, langkah yang tertata, ilmu yang bertambah, serta ikhtiar yang sempurna. Setelah itu terserah Allah.

Yang paling  penting, dalam kondisi seperti itu, kita telah memilih menjadi dewasa. 🙂

Published by

Syabli Muhammad

yang lagi belajar :)

3 thoughts on “DEWASA”

Comments are closed.