Day 5: Dua Rasa Satu Hati

Coba pejamkan mata sejenak dan dengarkan suara-suara di luaran sana malam ini. Saat saga merah menggelap, awan-awan putih mulai bergelanyut dalam dekapan remang, tersisa langit dengan bintang dan belum mulai menunjukkan kedipannya. Coba dengarkan, alam sedang menggema takbir. Kau akan mendengar di sebalik suara kembang api yang menghujani langit dengan percik warna-warni, ada seucap akan kecil yang mengangungkan Tuhannya. Di belakang petasan yang bersahutan mendengung gendang telinga, ada lirih tua yang melafal nama-nama Tuhan. Kala masjid-masjid mulai memantulkan echo ke seluruh penjuru negeri, ada dua perasaan yang sedang berenang dalam kejerihan jiwa kaum muslim, suka cita akan Ramadhan dan sedih rindu akan Syawal.

Sekarang buka mata dan cobalah berjalan menembus kota. Bawalah anakmu juga keluarga. Larutkan ia dalam suasana memulai malam dengan cara berbeda, berbeda dari malam sebelumnya. Biarkan matanya berbinar dengan banyaknya kaki yang membanjiri jalanan, tangan-tangan menggenggam obor yang dari jauh kelihatan seperti konser, dan replika masjid penuh kerlip mejikuhibiniu yang berarak dipikul para pemuda yang penuh senyum bangga akan karyanya. Biarkan telinga anakmu penuh dengan lafaz Agung yang tak hanya ia dengar dari mulut ibu dan ayahnya. Biarkan, biarkan hatinya memantapkan pikiran bahwa sepenjuru bumi sedang membantu ayah dan ibunya mendendangkan lagu paling megah tentang kebesaran Tuhan.

Ketika itu terjadi, coba ingat-ingatlah malam hari sebelumnya, kesejukan dan lantunan ayat sebakda sholat magrib, maka kau akan temukan sebuah pertentangan di lubuk hatimu. Antara sinar senyummu bersama anakmu dan semilir hati rindu pada dia yang tak tahu akan bertemu lagi. Itulah tanda Ramadhan telah pergi dan Syawal sudah duduk bertamu di teras rumahmu.

Kala dingin meninggi dan dekapan malam kian rapat, baringkanlah anak-anakmu. Keceup kening mereka agar siap menghadapi gempita esok hari. Berlaku juga padamu seharusnya. Sebelum mata memejam, tanya telah siap menantimu esok hari. Apakah kau sudah siap? Perayaan esok hari bukan hanya pertanda kemenangan, tapi juga dentuman mercusuar penanda perang besar telah mulai lagi. Hatimu menggamit dua perasaan sekaligus; buncah bahagia dan degup cemas, meriup raya dan mendebar harap.

Sayangnya, pertempuran tak melulu menunggu pagi. Dengan namaMu aku hidup dan aku mati, kata doa sebelum lelap. Memasuki alam bawah sadar pun membutuhkan namaNya untuk tetap tersadar, tentang makna hidup dan juga kematian. Sudahkah kamu benar-benar menjadi raja akan dirimu sendiri, kala bangun di pagi hari menatap masa hanya sebatas uji. Menjalani fana tanpa lupa asal sana. Mengarungi bahtera sementara dengan berpandu bacaan paling berbintang yang berasal dari KalamNya. Membentur pasang dan surut, air mata dan tawa, tinggi harta dan rendah papa, genggaman teman dan dekap sendiri. Semuanya dengan menatap satu pintu; Pulang.

Esok hari setelah membuka mata dan pagi membuka nafas, bacalah dengan hati penuh yakin; Terimakasih Allah, Kau telah menghidupkan aku setelah matiku, dan aku berharap Kau akan menuntunku untuk kembali kepadaMu. Kau boleh mempunya dua perasaan, namun tetap saja, ia masih dalam satu hati. Dan tentu kau paling mengetahui siapa maha penakluk hati.

Bangunkan anak-anakmu, siapkan mereka menyeka kelambu mentari, menghadapi tantangan baru dalam dunia permainan ini, semoga hati-hati kalian akan terus menyatu dan saling menguatkan hingga tiba saatnya matamu terpejam dalam waktu yang lama, sementara mereka menyitir sabda; Sesungguhnya dari Allah dan hanya kepadaNyalah kami kembali.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *