Day 4: Pulang

Aku merasa kesepian ketika semua orang membicarakan pulang. Bukan karena semua orang meninggalkanku atau karena aku tak punya tempat untuk merayakan kepulangan, hanya saja, ada satu lembah kosong yang menyeruak dalam hingar bingar pertemuan kembali ini.

Ada banyak pilihan makna dalam kata pulang, masing-masing orang menyerahkan kepada hati untuk memilihkan. Bahkan orang yang tak sempat menikmati kepulangan memberi arti dengan cara dan ucap rindunya.

Ini adalah masa untuk genggam erat, peluk hangat dan juga kecup kening keluarga kata yang satu. Yang lain berkata ini adalah hari dimana dosa meleleh beriringan dengan senyum yang mengembang di setiap rona. Tak ketinggalan ada yang berbahagian karena hari ini akan menjadi hari-hari penuh lemak, koresterol dan juga manisan.

Menelisik kesemuanya, ada satu garis merah yang merajut tiap bentuk makna di atas. Adanya sebentuk rindu tuk kembali.

Lontong opor kembali marak, kue kering kembali bermunculan bermacam rupa, karena orang-orang merindukannya untuk kembali hadir. Peristirahatan terakhir beramai pengunjung, rumah tetua berkerumun, tetamu silih berganti mengucap salam, jabat tangan yang hilang setahun lamanya bersua lagi. Kesemuanya itu adalah sebuncah kristalisasi rindu tuk kembali; entah kebersamaan, rasa dan juga memoria.

Di atas semua itu, ini adalah bentuk perayaan yang mulia. Pernyataan lantang tentang kerinduan jiwa-jiwa akan kesucian yang telah lama hilang.

Di titik inilah aku menjadi begitu kesepian, karena mungkin jiwaku yang merindu, tak menemukan kembali mahkotanya yang telah terlarut dalam lautan hitamnya dunia. Dalam perayaan ini, ia menangis dalam hati. Keinginannya untuk pulang begitu menggebu, namun tak kuasa ia hanya bisa tergagu.

Kesempatan hampir pergi seumpama detik detik terbenamnya sinar matahari. Hanya tersisa sedikit saja dari cahayanya. Temaram  dan banyang-banyang mendekat dan semakin dekat. Dalam tiap helaan nafas dekapan gelap kian erat.

Mentari ramadhan kian menjauh dan redup. Hadiah waktu terbesar baru saja aku lewatkan dengan pongah. Berprasangka umur masih sejagung, padahal ajal tak mengenal jenjang. Kepulangan hakiki, yang pasti terjadi, selalu mengintai tak memastikan hari.

Oh jiwa yang tenang, pulanglah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi, kata kitab suci mengingati. Kepulangan seperti inilah semua cari. Oh, betapa indahnya sebaik-baik perpisahan seperti ini, sepurna-purna pulang.

Malaikat bertamu dengan sunggingan senyum, sudah tiba waktu bertemu, katanya pelan. Ruh melerai raga, amat sangat sakit tapi hamparan taman yang dijanjikan menuntas rela. Pintu gerbang perjumpaan dengan Pencipta segera terbuka, rindu diatas segala rindu tertunai segera.

Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu. 

***

Aku merasa kesepian bukan karena semua orang membicarakan kepulangan. Namun ramadhan telah pulang dan aku belum menemukan jiwaku pulang. Ia masih sibuk dalam pengembaraan duniawinya. Ramadhan telah pergi sementara jiwaku semakin jauh tersesat pergi. Ramadhan mengucap salam akan tetapi jiwaku belum menemukan keselamatannya. Ramadhan melambai tangan sementara jiwaku tertawan pergi, menatap punggungku yang menjauh.

Aku merasa kesepian bukan karena tak punya tempat pulang. Namun jalurku semakin jauh dari peta tuntunan. Petaku berubah-ubah sementara sisa tenaga terus berkurang. Lajurku berkelok sementara bahan bakarku semaakin menipis. Aku tersesat sementara perbekalanku semakin mengempis. Parahnya, jiwaku meronta menunjuk kompas yang bernas, tapi dosa menulikan pendengaran, mengaburkan penglihatan, dan mengeruhkan hati.

Aku takut…. Aku takut perjalananku tak sampai pada rumah sesungguhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *