Day 1 : The Beginning

Aku tertarik dengan ide ini ketika melihat video Nas di facebook, Pemuda Palestina jebolan Harvard yang tinggal di Israel. Nasdaily nama projectnya. Ia membuat video berdurasi satu menit setiap hari dan menguploadnya di facebook. Menarik, kataku dalam hati ketika menonton beberapa videonya.

Ide ini semakin menjadi ketika aku berkunjung ke Gramedia Lombok. Honestly, I felt lost at that time. Aku sedang dalam kondisi butuh asupan gizi dari bacaan yang mencerahkan. Tapi hampir setengah jam berkeliling, aku terduduk playground di kursi balita mungil tempat anak-anak bermain. Di sebelah kiriku ada rak buku Self Improvement. Banyak sekali yang menggoda untuk dibaca.

Namun, aku ragu untuk mengambilnya. Aku berpikir sudah terlalu banyak mengambil referensi meditasi, pengembangan diri dan spiritual dari para penulis barat. Ini kan bulan ramadhan!?

Aku melihat di rak sebelah kiri, karena ini bulan puasa, seakan rak buku laris dipenuhi dengan kitab-kitab klasik. Mulai dari Al-Umm karya fenomenal Imam Mazhab Syafi’i sampai Al-Hikam karya sufistik Ibnu Athoillah. Ada dorongan untuk memboyongnya pulang. Tapi aku bergeming. Ada perasaan bersalah ketika Buku Hadist karangan Imam Bukhori yang jilid pertama pun tidak bisa aku selesaikan. Entah karena memang bahasa terjemahan tidak bisa menandingi bahasa aslinya, bahasa arab, dan juga karena aku sendiri tidak bisa membeli buku otentiknya karena keterbatasan bahasa.

Yang terjadi akhirnya, aku hanya duduk membersamai dua anak kecilku, Adzka dan Azfar yang asyik memainkan lego yang disediakan Gramedia. Di tengah kebengonganku, istri bertanya, “Mau buku yang mana?”

“Mungkin aku butuh menulis untuk memaksaku membaca lebih banyak.”

Semenjak sibuk dengan dunia kerja, sepertinya rutinitas menulisku menurun sampi titik nol derajat. Sampai-sampai istriku protes, kenapa setelah menikah tidak pernah ada tulisan lagi. Aku hanya menjawab dengan senyum tanpa kepastian.

Seorang laki-laki yang menikah akan masuk dalam zona nyaman (seorang trainer keluarga asal Yogya pernah bilang). Memang ada benarnya, ketika masih jomblo, kegelisahan pasti ditumpahkan ke dalam tulisan. Segala penderitaan dan kenelongsoan akan menjelma kata-kata. Akan tetapi, pasca ada teman berbagi, sepertinya mengetikkan jemari di keyboard tergantikan dengan bercerita kepada pasangan.

Akibat buruknya, terlalu lama dalam zona nyaman mengikis sensitifitas, malas berpikir kritis, enggan untuk mencari bacaan baru, juga lalai akan pembelajaran-pembelajaran kehidupan.

“Jadi, mau ambil buku yang mana?”

“Honey, aku ingin buat situs pribadi.”

Ada sedikit kerutan dalam nada pandang istriku, masih tak mengerti akan jawabanku.

“Aku ingin menantang diriku untuk menulis setiap hari, minimal 500 kata.”

Ia tersenyum. Mendukung.

Dan inilah tulisan pertama yang saya beri judul the beginning. Ada banyak ketakutan yang bermunculan seperti banyang-banyang. Bisakah aku konsisten, bisakah menulis sebanyak itu, apa tidak dikurangi saja jadi 300 kata, apa yang harus aku tulis … … …

Buku pertama yang aku baca kembali untuk memulai project gila ini adalah Berani Berekspresi karangan Susan Snaughnessy. Buku ini sering sekali membantuku ketika mengalami kebuntuan menulis.

Pada halaman pertama ia mengatakan;

“Menulis bisa terasa seperti berjalan di awang-awang…. … … Kita adalah para penulis yang mengawali setiap hari dengan berjalan menuruni tebing, sambil berwaspada kalau-kalau ada buaya di bawah sana. Namun demikian, kita terus menulis; dan tidak jarang kita menyukai apa yang kita tulis. Tempat gelap menjadi tidak terlalu gelap ketika tiba di sana. Hanya berjalan ke sanalah yang menakutkan.”

That’s 500 Words, See You Tomorrow!

 

 

 

 

Published by

Syabli Muhammad

yang lagi belajar :)