The Disney Way

Suatu hari seorang teman bertanya lewat whatsapp, “Bro, gimana cara hitung-hitungannya untuk gaji karyawan.?!.”

Singkatnya saya menjawab: “Kalau mau cepat kaya pake sistem komisi, tapi kalau mau keberkahan, ya, manusiakan karyawan.”

Membaca buku the Disney Way ini, mengigatkan ulang akan percakapan saya itu. Namun muncul lagi perbagai pertanyaan-pertanyaan yang bertabrakan dalam pikiran saya sendiri tentang apa sebenarnya yang membuat seorang karyawan bisa melakukan hal-hal luar biasa demi perusahaan, apakah empat pilar disney berupa Dream, Believe, Dare dan Do, bisa membuat perubahan sampai di level terbawah sekalipun.

Dalam bab believe di buku ini ada cerita tentang betapa heroiknya doorman (penjaga pintu) hotel Four Seasons, yang ketika seorang penghuni hotel yang checkout kemudian tasnya tertinggal di sekitaran lobby karena buru-buru naik taksi ke bandara. Dengan sigapnya penjaga ini mengambil inisiatif memesan taksi dan mengejar si empunya tas. Naasnya ia terjebak macet akhirnya terlambat, pesawat telah lepas landas. Tak patah arang, ia memeriksa tas dan menemukan nomor telepon kantor kostumer hotel tadi, dan menanyakan kemana penerbangannya. Ia pun memesan tiket ke Boston untuk mengantarkan tas, tanpa izin atau pemberitahuan kepada pimpinannya di Hotel.

Dalam pikiran saya, apa yang doorman ini percayai? Apa yang ia yakini? Apa yang ada dalam pikirannya? sehingga begitu luar biasa pengabdiannya kepada seorang pelanggan yang tidak ia kenal. Belum tentu juga ia dapat naik gaji melakukan hal itu, malah bisa jadi juga dipecat karena meninggalkan tugasnya di hotel.

Saya merenung dan rasa-rasanya semuanya kembali kepada Dream dan Believe apa yang kita ingin tanam di perusahaan kita. Saya ingin cerita sedikit pengalaman saya, bukan berarti perusahaan kecil saya sudah punya karyawan model doorman di Hotel Four Seasons tadi, tapi minimal perubahan kecil yang pernah saya alami.

Tadinya saya berpikir bahwa sistem komisi untuk karyawan adalah model yang paling adil untuk menggaji karyawan. Karyawan bekerja berdasarkan jerih payah keringan yang meraka keluarkan. Kalau mereka rajin ya dapat gaji banyak, kalau malas-malasan yang dapetnya sedikit. Saya juga tidak perlu susah-susah ngotrol mereka, mereka akan sadar sendiri ketika performanya jelek maka otomatis gaji yang mereka dapatkan sepadan. Artinya mereka sendirilah yang menentukan gaji mereka. Saya akui sistem seperti ini, super duper simple and fair.

Tapi ternyata saya salah!

Salahnya dimana? salahnya bukan pada sistem penggajian tapi salahnya ada pada saya punya Dream dan Believe yang salah tentang perusahaan. Bibit kapitalis sudah tumbuh berkembang dalam pikiran dan tindakan saya.

Sepulang dari Malang setelah 4 hari bersama Mas J, saya merombak ulang Dream dan Believe saya tentang perusahaan. Tadinya saya hanya ingin kaya dari bisnis, berubah memanjang, tak hanya kaya di dunia tapi juga di akhirat. Tadinya saya hanya ingin balas dendam atas masa lalu yang miskin, berubah menjadi memaafkan diri sendiri mencoba bebas dari keserakahan. Tadinya saya ingin memiliki legacy, meninggalkan perusahaan besar, berubah orientasi membelokkannya menjadi potensi amal jariah yang bisa diwakafi.

Ba’da itu sistem penggajian saya berubah. Saya memulai dengan bertanya Dream mereka apa dalam hidup, saya menggali Believe apa yang ada dalam diri mereka. Walau ini adalah proses berkelanjutan, saya sudah merasakan perubahannya.

Perubahan paling mendasar yang saya rasakan adalah, saya merasa tenang. Saya bukan lagi pemilik perusahaan tapi hanya sebagai kepala suku. Mereka hidup dan menghidupi diri mereka dari perusahaan, saya hanya membimbing. Perusahaan berubah dari tadinya profit oriented banget, menjadi lebih berkah oriented.

Walt Disney mengatakan;

Setelah 40 tahun di dalam dunia bisnis, penghargaan terbesar yang saya peroleh, menurut saya, adalah bahwa saya mampu membangun organisasi yang indah ini…, dan bahwa masyarakat menghargai dan menerima apa yang telah saya lakukan selama ini–hal tersebut merupakan penghargaan yang luar biasa.

Bagaimana kalau kita rubah kalimatnya menjadi;

Kebahagiaan terbesar yang saya peroleh dari bisnis ini, menurut saya, adalah saya meninggal dengan khusnul khotimah, mewakafkan perusahaan sebagai amal jariyah, ribuan karyawan dan keluarganya yang mendoakan, serta saya kembali kepada Allah dengan hati yang selamat. Amin.

Man Up!

Dear Fia,

Cukup aku sayangkan tapi sepertinya kamu masih harus bersabar lagi. Setelah pembicaraan tadi malam, saya rasa suamimu masih belum menemukan titik baliknya.

Saya kira dengan kehilangan mobil, dia akan sampai kesimpulan, tertanya belum.

Saya kira dengan terlunta-lunta menumpang sana-sini , dia akan sampai pada pemahaman utuh ternyata belum.

Saya kira dengan melihat kondisi anak dan istrinya seperti saat ini, dia akan sampai pada keputusan bulat, ternyata belum.

Ternyata dia masih butuh waktu.

Ternyata dia masih butuh kekecewaan lain.

Ternyata dia masih butuh berbenturan dengan realitas lagi.

Ternyata kamu masih harus bersabar—menunggunya.

Aku tidak tahu namanya apa. Tapi yang pasti, pemikirannya belum satu. Dia selalu masih melihat ada belokan lain untuk menghindar sebentar dari masalah. Dia masih selalu mengharapkan sesuatu yang bisa menunda penyakitnya.

Pembicaraan tadi malam contohnya. Dia masih berharap selalu ada solusi yang tiba-tiba. Dia masih menunggu tiba-tiba ada perubahan drastis, seperti tiba-tiba jadi PNS, seperti tiba-tiba dapat Bisnis yang enak, seperti tiba-tiba jadi bisnis owner, seperti tiba-tiba dapat passive income, seperti tiba-tiba passionnya dalam bidang desain biar segera ia ubah jadi duit.

Memang, secara keimanan kita harus selalu yakin dengan adanya pertolongan Allah kepada hambanya yang beriman. Saya tahu bahwa dia yang kau saying sudah pasti sangat yakin akan hal itu. Tapi menurutku, di samping kita meyakini akan pertolongan Allah, kita juga harus mempelajari SunnatulLah, hukum alam yang Allah tetapkan.

Ini pemikiran saya yang realistis. Saya tidak berharap ini terjadi, tapi saya sampaikan ini, supaya kamu siap-siap.

Pertama, kamu harus mempersiapkan kos ini tentu saja jumlahnya jutaan. Kedua, menunggu itu menghabiskan biaya banyak, dengan menunggu kamu akan menghabiskan banyak biaya hidup sementara tidak ada income yang bisa kamu hasilkan. Ketiga, hutang yang belum selesai akan terus menghantui tiap bulan-bulanmu. Dari tiga komponen ini saja, kamu harus menyiapkan minimal 5 juta rupiah setiap bulan. Pertanyaannya, berapa tabunganmu sekarang? Berapa lama kamu bisa bertahan?

Belum lagi kalau kamu menambahkan biasa tes CPNS ke luar daerah, memperhitungkan ongkos, akomodasi dan waktu. Berapa biaya tambahan yang harus kamu keluarkan? Sudahkah kamu siap?

Usulanku untuk segera saja mulai usaha, mungkin terdengar tidak realistis dan menyakitkan.

Tidak realistis karena mungkin dia berpikir, bagaimana mungkin jualan es bisa membantu. Menyakitkan karena dia berpikir betapa merepotkan dan melelahkannya.

Tapi bagi saya itulah yang paling realistis, karena sesuai sunnatullah. Memulai dengan ikhtiar sempurna berupa tijaroh. Sekecil apapun itu, setelah melewati fase mengalami, maka akan ada jalan-jalan baru yang bermunculan, jalan yang mungkin tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya. Tapi ini tidak akan pernah datang, kalau kamu tidak memulainya.

Menyakitkan berupa capek, lelah dan merasa terhina? Ia memang harus! Karena itulah cara Allah untuk mengangkat derajat. Orang yang selalu mendapat kemudahan bisa jadi adalah cara Allah menghinakannya.

Terakhir, dia masih perlu banyak belajar untuk memahami dirinya sendiri;

Alasan ketiadaan modal, bisa jadi hanya sebuah refleksi dari ketidaktahuan saja.

Alasan mau langsung jadi bisnis owner, bisa jadi hanya sebuah permukaan dari bagian dalam diri yang masih penuh gengsi dan kemalasan.

Alasan tidak mau berpartner sama orang lain, bisa jadi hanya sebuah cerminan dari ego diri yang masih tinggi, dan biasanya beriringan dengan sikap susah menerima masukan.

Alasan mencari bisnis yang ia sukai untuk ditekuni, bisa jadi hanya sebuah jawaban klise untuk lari sejenak dari tanggung jawab.

Maafkan saya, saya tidak bisa membantu masalah seperti ini sampai ia menemukan titik baliknya. Guru saya bilang, Ilmu itu akan sampai ketika muridnya sudah siap.

Kita tunggu saja sampai ia benar-benar siap. Sebelum waktu itu datang, doakan dia dan bersabarlah!

Syabli
16 Februari, 2020

==============

NB: Catatan ini saya buat setelah tadi malam ada satu orang kawan yang curhat ke saya sedang menghadapi krisis perempat usia. Saya mau nasehati tapi sepertinya dia belum siap menerimanya. Jadilah saya tuliskan seolah-olah ini adalah surat untuk istrinya. Semoga jadi nasehat juga buat diri saya.

The Dreaming Room

Bisnis tanpa mimpi seperti hidup tanpa tujuan.

Michael E. Gerber

Hampir dua tahun lalu, tahun 2017, saya memilih berhenti jadi Dekan di Universitas Swasta di Pulau sumbawa, mengundurkan dari kandidat beasiswa S3 di Inggris dan memilih tidak punya pekerjaan. Banyak keluarga dan teman yang menganggap saya gila dan tidak bersyukur. Buku ini menyuruhku untuk mengingat-ingat kejadian kala itu.

Saat itu penuh dengan perasaan tertantang dan juga terancam. Tertantang karena sepertinya ada bayang samar jawaban sayup tentang kebimbangan krisis perempat usia. Dunia seperti berbicara kepadamu dengan bahasa baru, bahasa yang tidak biasa kamu dengar. Bahasa yang menjanjikan apa yang bisa jadi kamu cari selama ini, tapi belum pernah kamu usahakan, sebuah suara tentang kesempatan. Namun, di sisi lain, kamu merasa terancam, karena bahasa itu jugalah yang akan menyeretmu dari semua hal yang membuatmu berada dalam titik ini dalam hidup. Dia akan membawamu kepada hal-hal yang tak pasti, meninggalkan semua kehidupan normalmu, masa depanmu tak terprediksi.

Selain tuhan, hanya Lina, istri saya, manusia satu-satunya tempat saya meminta izin dan juga restu. Orang tua, keluarga dan lainnya, hanya saya berikan pemberitahuan dan juga permintaan doa. Tak ada jawaban atas pertanyaan “kenapa” dari mulut mereka. Saya tahu mereka sedih, menyayangkan dan pastinya khawatir, tapi hanya senyum yang bisa saya berikan. Itulah momen awakening saya.

Melewati masa berbulan bulan, tabungan mulai menipis, sementara tidak ada pemasukan, keputusan saya untuk terjun menjadi Digital Marketer belum juga membuahkan hasil, rumah saya masih numpang, istri sebentar lagi melahirkan anak ketiga, setiap keluar rumah dan bertemu orang, pikir saya mereka seperti berkata, “Nah, sekarang nyesal kan!” Saya mulai mengurung diri. Inilah masa-masa Realization dan Negative Reaction yang saya hadapi.

Sampai akhirnya saya menimta izin kepada satu-satunya investor saya, lagi-lagi istri saya untuk menggunakan tabungan terakhir hasil tabungan dia untuk saya pakai ikut kursus online tentang Facebook Ads, sebesar dua juta lima ratus rupiah. Inipun berakhir dengan kegagalan.

Alhamdulillah tidak berhasil profit setelah praktek kursus itu, bukan berarti saya kalah total. Berbekal ilmu-ilmu dasar di kursus itulah yang membuka jalan untuk saya memahami basic, belajar sendiri, membaca literatur, mempelajari sharing para advertiser di Youtube, sampai akhirnya bisa spend iklan di facebook dari 300 ribu, satu juta, lima juta sampai puluhan juta. Di masa ini, persolan dream saya mulai terbentuk.

Saat itu, saya sudah menjadi orang yang berani bermimpi punya mobil, punya rumah, dan juga jalan-jalan ke luar negeri. Seperti orang yang balas dendam dengan semua kepahitan masa lalu, ketidak mampuan selama hidup 30 tahun.

Sampai akhirnya saya mengikuti Training For Mentor yang diadakan mas Jaya Setiabudi beberapa bulan yang lalu di Malang. Di situ saya menemukan Sudden Shock saya. Berbisnis bukan hanya tentang personal dream, tapi impersonal dream. Mimpi yang bukan lagi tentang personal diri kita, tapi mimpi tentang kontribusi terhadap orang lain.

Sepulang dari training, saya bertemu satu-satu dengan karyawan-karyawan saya. Saya bertanya dalam ruangan tertutup dengan mereka enam mata ditemani istri. Ternyata mimpi-mimpi mereka begitu sederhana, sesederhana hanya ingin punya motor bekas, sesederhana hanya ingin agar adik mereka bisa lanjut kuliah, sesederhana agar mereka bisa meringankan hutang orang tuanya. Saat mereka ada yang malah tak punya mimpi macam-macam, hati saya rembes. Ketika ada dari mereka yang akhirnya berkaca-kaca menceritakan hal-hal yang menyesakkan dada, mata saya ikut berembun tapi saya tahan.

Saat itulah saya memantapkan diri dan mulai masuk ke The Dreaming Room saya. Di situlah saya menemukan sesuatu yang lebih besar dari ke-aku-an saya. Saya menemukan sesuatu yang hilang.

Dulu, saya hanya meminta izin dan restu hanya sama istri, melalui tulisan ini saya ingin berkata kepada siapa saja yang membacanya, mohon doakan saya, istri dan juga tim yang sedang membangun bisnis yang benar menurut Gerber, bisnis yang punya mimpi!

Muda. Berdaya. Karya Raya!

Saya tidak akan membahas isi buku ini lebih detail. Yang saya pahami, membaca buku Fahd yang ini, saya merasakan sebuah kejujuran. Bukan berarti bahwa buku-bukunya yang lain tidak jujur, hanya saja buku ini rasanya seperti sebuah pengungkapan cerita tentang Fahd apa adanya, tidak mencoba menjadi seorang cendikiawan, seorang penyair atau seorang filsuf.

Karena tidak membahas isi, izinkan saya hanya mencoba menuliskan memori tentang penulisnya. Meskipun tulisan ini akan terkesan seperti sok kenal dan sok dekat. Tak apalah, ini sebagai bentuk ungkapan kenangan seorang penggemar saja.

Saya pertama kali bertemu Fadh pada saat ospek universitas Muhammadiyah Yogja. Kita sama sama satu jurusan, Hubungan Internasional. Saya tidak ingat pastinya, sepertinya kami berada di kelompok yang sama.

Satu kesan pertama yang saya dapat adalah; wah anak ini penampil. Ia ingin selalu jadi yang terdepan dalam setiap diskusi atau tanya jawab. Kalau tidak salah “cita-cita jadi presiden RI” adalah kalimat yang ia ucapkan setelah menyebutkan nama ketika panitia memintanya memperkenalkan diri.

Tapi ada satu momen yang cukup membekas di saya, saat dia mengajarkan saya cara mengikat dasi. Ya, pasang dasi di leher adalah satu hal yang tidak pernah saya lakukan dan itu adalah kali pertama dalam hidup saya mencoba dan entah kenapa setelah malam sebelumnya belajar di internet, selalu gagal. Akhirnya dialah yang memasangkannya di leher saya.

Setelah itu hidup perkuliahan kita jarang bertegur sapa bahkan mungkin hampir nggak pernah, karena kita beda kelas dia kelas A saya kelas D. Pernah sepertinya saya melihat Fahd ikut mendaftar ke Unit Kegiatan Mahasiswa SEA (Student English Activity) tempat ngumpulnya mahasiswa yang suka bahasa dan kegiatan berbahasa Inggris. Waktu itu banyak sekali yang ikut seleksi wawancara tapi penerimaan terbatas, hanya 30 atau 50 orang kalau saya tidak lupa. Dan ketika ospek UKM tersebut, saya tidak mendapati Fahd. Entah dia mengundurkan diri atau memang tidak lulus, saya tidak tahu. Namun, saya yang lulus pun waktu itu cuman bertahan sebulan berkegiatan di sana.

Persinggungan saya kembali dengan Fahd adalah ketika saya menemukan kumpulkan tulisan yang dijilid rapi kepunyaan kakak kelas saya jurusan Ilmu Komunikasi, judul tulisan itu adalah Magnum Opus yang ternyata adalah tulisan-tulisan Fahd. Wah, saya baru tahu kalau anak itu adalah seorang penulis.

Sejak saat itu saya mengikuti tulisan-tulisan Fahd. Mulai sari buku yang ia terbitkan waktu SMA berjudul kucing, sampai tulisan-tulisannya di majalah kampus terbitan IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah).

Secara tidak langsung, tulisan-tulisan Fahd mempengaruhi gaya tulisan saya. Saya sering mencoba meniru gaya tulisannya saat saya cari makan lewat kirim opini di koran, bahkan saat saya menjadi Pimpinan Umum majalah Bening (majalah UKM Rohis di kampus).

Begitulah, Fahd semakin terkenal di kampus dengan semakin aktifnya dia berkegiatan di bidang creative, seperti Sahabat Perpus (ini ingatan saya agak kabur yang jadi ketuanya Fahd atau bukan, hehe) dan juga kegiatan kemahasiswaan lainnya. Waktu itu saya menjadi bagian dari Humas Universitas, nyari makan dengan jadi wartawan kampus, digaji 500 sampai 700 ribu sebulan. Seringnya adalah Fahd adalah target incaran slot berita saya. Karena saya ditugaskan untuk mendapatkan dua berita setiap hari. Kalau dia ngadain kegiatan, saya ikut nimbrung untuk dapetin berita. Fahd buat talkshow, saya cuman dateng untuk ngutip kata-katanya dan balik lagi ke kantor humas buat nulis beritanya untuk dikirim jam 12 teng ke semua email koran lokal dan nasional pada waktu itu.

Itulah segelintir pertemuan saya dengan Fahd, saat ini saya hanya sebagai penikmat tulisan-tulisannya lewat buku, terus berkarya Fahd! Dari teman yang mungkin sudah tidak kau kenali lagi. hehe :). Oya, denger-denger lo mau nyalon jadi walikota TangSel ya, Good Luck Bro!

Ikigai

Ikigai kita berbeda satu sama lain. Namun, satu hal yang sama adalah bahwa kita semua mencari makna.

~

Saya pertama kali lihat diagram Ikigai di Malang di acara Training For Mentor yang dibuat sama Mas Jaya Setiabudi. Waktu itu sesi materi tentang Lean Manufacuring disampaikan oleh Mas Arief si empunya Respiro, brand produsen lokal yang kalau nggak salah udah masuk juga jadi salah satu sponsor di MotoGP.

Akan tetapi waktu itu saya nggak tahu kalau Ikigai itu ada bukunya sendiri, saya cuman tertarik dengan konsepnya yang cukup menyeluruh, karena secara pengertian Ikigai itu pertemuan antara 4 hal (Gairah + Misi + Keahlian + Profesi = Ikigai). Sementara itu gairah dijabarkan sebagai gabungan apa yang kita cintai dengan apa keahlian kita; Misi sebagai perpaduan apa yang kita cintai dengan yang dunia butuhkan; belum lagi Keahlian dari kombinasi apa yang dunia butuhkan ditambah untuk apa kita dibayar. Dan tentu saja terakhir adalah profesi yang merupakan buah dari apa keahlian kita ditempa dengan untuk apa kita dibayar.

Memikirkan apa Ikigai dalam diri saya dengan melihat diagram itu aja bikin pusing, saat itu pemikiran saya masih cuman konsep dua dimensi sepertinya. Contoh pemikiran dangkal saya adalah, orang yang mengerjakan gairah (passion) dia dan dibayar karenanya adalah orang yang beruntung, itu saja. Nah, bisa menemukan satu hal yang mempertemukan gairah, misi, profesi dan keahlian saya kayaknya sulit nemunya, pikir saya dalam hati.

Akhirnya secara nggak sengaja lihat juga judul buku Ikigai waktu lagi maen ke Gramedia, ternyata internasional best seller juga. Jadilah saya angkut ke rumah.

Membaca lebih jauh buku ini, menemukan Ikigai adalah sebuah proses panjang untuk menemukan makna diri kita sendiri. Sembari itu, kita harus terus menghabiskan hari-hari kita dengan merasa terhubung bersama hal-hal yang berarti bagi kita, sehingga hidup kita menjadi lengkap. Karena ketika hubungan itu hilang, kita pun merasa putus asa.

Kehidupan modern semakin menjauhkan kita dari kesejatian hingga kita mudah untuk menjadi pribadi yang menjalani hidup tanpa makna. Uang, kekuasaan, perhatian dan kesuksesan selalu mengalihkan perhatian kita setiap hari. Bahkan sampai mengambil alih hidup kita.

Duo penulis buku ini, Hector dan Miralles, demi menyelami arti dan seni hidup ikigai ini telah mewawancarai dengan lebih dari 100 orang centenarian (orang berusia lebih dari 100 tahun) di Ogimi, sebuah desa di Jepang yang mendapat julukan Desa Panjang Umur (Village of Longevity). Karenanya, memang buku ini banyak berbicara tentang bagaimana menjadi bahagia dan panjang umur.

Tapi sebenarnya, menurut saya tidak ada yang istimewa mendengar cerita-cerita dari orang orang yang bahkan sampai berumur 120 tahun itu. Yang membuat mereka bertahan sedemikian lama hidup hanya hal-hal sederhana saja. Hal-hal yang terlalu sederhana sehingga kita jarang memperhatikannya bahkan menganggapnya remeh.

Contoh satu perilaku saja dan ini masuk menjadi salah satu dari 10 aturan Ikigai, yakni; Jangan penuhi perutmu!. Ini jadi prinsip soal makan untuk panjang umur.

Hal seperti ini juga sudah Rasulullah ajarkan dari ribuan tahun yang lalu, masalahnya kita yang tidak pernah prakek. Rasulullah mengajarkan kita untuk makan kalau lapar, dan berhenti sebelum kenyang. Lah kita! Bukannya sedikit makan, malah sedikit-sedikit makan.

Jadi sebenarnya membaca buku ini membuat saya merasa memang kita ini terlalu banyak mengisi hidup kita dengan sampah. Sampah pikiran, Seperti notifikasi hanphone yang kita tunggu tiap 30 detik. Sampah hubungan, seperti melihat orang lain hanya sebagai sebuah obyek mendapatkan keuntungan. Sampah keserakahan sampai ke sampah makanan seperti makanan cepat saji, kalengan juga makanan olahan yang kalau kita baca komposisinya lebih mirip nama-nama obat ketimbang nama makanan.

Akhirnya saya tutup tulisan ini untuk melanjutkan pencarian saya tentang apa Ikigai saya; apa passion dalam diri saya, bakat unik yang memberi makna pada hari-hari saya dan mendorong saya untuk berbagi yang terbaik dari diri saya sampai saat terakhir malaikat Izrail memberi kode… doakan saya segera menemukannya.

Tabik!

Goodbye, Things

Kita lebih sibuk meyakinkan orang lain bahwa kita bahagia ketimbang benar-benar merasakan bahagia itu sendiri.

– Francois De La Rochefoucauld

Pertama kali saya mengenal konsep hidup minimalis dari videonya Raditya Dika yang menjual semua koleksi jam mewah yang ia punya dan menyisakan satu saja. Setelah itu saya juga juga nonton film dokumenter berjudul “Minimalism: A Documentary About the Important Things”. Dari situlah beberapa kali mampir di Gramedia, beberapa judul buku tentang minimalis mencoba menggoda saya.

Sampai akhirnya kemarin saya memutuskan membeli karya Fumio Sasaki berjudul Goodbye, Things. Inilah pengalaman membaca saya tentang buku ini, lebih tepatnya kemana pikiran melayang berjalan ketika membacanya.

Buku ini sebenarnya hanya bercerita tentang seorang laki-laki 30 tahunan yang tinggal di apartemen kecil di Tokyo dengan tiga kemeja, empat celana panjang, empat pasang kaus kaki, dan sedikit benda-benda lain yang ia miliki. Lebih jauh buku ini membahas alasan mengapa ia memilih minimalis, meninggalkan maksimalis dan perubahan apa yang terjadi di hidupnya.

Dalam guratan tulisannya, saya bisa merasakan bahwa ia ingin mengajak kita, memaknai ulang tentang makna hidup. Fumio ingin mengajak kita lebih bahagia dengan mejadi pribadi yang merdeka, menikmati hidup, menjadi pribadi yang nyata bukan palsu.

Membaca buku ini kita akan menemukan persfektif baru pemaknaan terhadap apa-apa yang mungkin kita sudah tahu. Misalkan sebagai seorang muslim; saya pernah baca kisah hidup rasulullah dengan semua kesederhanaannya. Saya juga pernah membaca bagaimana kisah sahabat Rasul, contoh saja Umar yang menguasai hampir sepertiga bumi tapi masih juga pakaiannya lusuh.

Membacanya juga banyak sindiran-sindiran pada diri dalam hal terutama menumpuk barang, atau bahkan mengejar suatu barang. Saya ingat bagaimana saya pernah suka sekali terkait perkembangan gadget dan selalu mengidam-idamkan handphone keluaran terbaru. Sering sekali baca berita terbaru, nonton video-video riview di Youtube. Akhir-akhir ini sudah bukan handphone lagi tapi beralih ke mobil. Memimpikan mobil merk A, mempelajari fitur-fitur dan segala tentang modifikasinya padahal saya sudah punya mobil yang cukup baik performanya.

Ah, memang benar bahwa kebahagiaan bukanlah memiliki apa yang kita inginkan, melainkan menginginkan apa yang kita miliki.

Sebagai seorang muslim saya sudah sering mendengar ceramah tentang Qonaah, merasa cukup. Tapi memang dasar kita yang terlalu sering lupa. Konsep ini telah diajarkan waktu saya Madrasah Tsanawiyah dulu, namun dalam kenyataannya nggak seperti itu. Tanpa sadar, benih materialisme terus tumbuh dan menjalar di darah daging hidup saya.

Misalkan saja, dalam berbisnis masih saja serakah itu muncul. Saya pernah dalam satu waktu hanya memikirkan profit dan profit, tanpa memedulikan kesejahteraan karyawan, kepuasan pelanggan, juga keberkahan dalam proses. Saya lupa bahwa doa-doa dari mereka bisa mencelakakan saya di akhirat. Mungkin secara finansial kita bisa kaya dengan cara berbisnis seperti ini, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa sumpah serapah dari pelanggan yang murka, doa terdzolimi dari karyawan malam membuat rizki berupa kesehatan, keharmonisan, dan juga kebahagiaan mempunyai anak sholeh tidak pernah saya dapatkan, astagfirullah…

Perasaan serakah itu seperti monster dalam diri kita yang semakin kita kasih makan dengan harta-semakin besar ia menjelma. Kita belikan dia HP baru, seminggu minta lagi keluaran terbaru. Kita kasih makan dia dengan mobil bekas, dia minta kita untuk ambil hutang di bank demi mobil dengan tampilan lebih baru.

Setelah baca buku ini, saya ada nonton seorang penceramah dari Malaysia. Entah kenapa tapi yang ia sampaikan senada dengan buku ini. “Nanti..” kata dia seolah berbicara kepada jamaah yang punya hobi mengkoleksi barang mewah seperti mobil sport ratusan juta, lukisan harga milyaran, “Sebelum beli lagi, tolong tanyakan kepada hati masing-masing, Apa yang akan saya jawab kalau Allah tanyakan pada kita, untuk apa kita membeli dan pergunakan barang-barang itu?”

Sebenarnya bukan hanya tentang barang mewah saja. Baju-baju yang hanya mendekam di lemari sudah satu tahun, buku yang tergolek di lemari tanpa pernah tahu entah kapan kita akan baca, perabotan dapur yang berlimpah hanya karena kita menganggap akan ada banyak tamu datang tiap hari, atau lah tiga buah gunting di dalam rumah yang sebenarnya satu gunting pun jarang kita pakai.

Alhamdulillah, seba’da buku ini saya baca, ada beberapa gunungan barang yang mengucapkan salam perpisahan dari rumah saya.

Selaman membaca dan bersih-bersih 🙂

DEWASA

Kapan Kita Dewasa?

Kapan kita benar-benar dewasa? Pertanyaan ini menyeringai lagi beberapa hari ini. Ada beberapa kejadian yang membangkitkan lagi pertanyaan ini;

Pertama, status seorang teman yang membagikan sebuah opini dari seorang psikolog terkait sudut pandang terhadap kasus Reynhard Sinaga, pemerkosa di Inggris yang kemarin heboh itu. Simpulannya kira-kira begini; Kecerdasaan seseorang yang kuliah master bahkan sampai Ph.D tidak berbanding lurus dengan tingkat kedewasaan. Bisa jadi dia sudah balig (istilah dalam islam yang artinya sudah dewasa secara fisik), tapi dia belum aqil (arti harfiah dalam bahasa arabnya adalah berakal, disini bisa kita artikan sudah dewasa secara pemikiran). Ada satu kalimat yang menyentak saya di tulisan itu, bahwa sistem pendidikan kita di Indonesia saat ini, masih belum mampu menciptakan manusia yang aqil balig, dewasa secara fisik, tingkah laku dan pemikiran. Buktinya, masih banyak orang yang berpendidikan tinggi, lulusan sarjana umur 30 masih juga labil mengambil keputusan dalam hidup. Kalah sangat jauh dengan pendidikan ala Rasulullah yang bisa mencetak seorang panglima perang seperti Usamah bin Zaid di usia 18 tahun, atau anak muda yang keilmuannya melebihi sahabat-sahabat senior seperti Ibnu Abbas yang ketika nabi meninggal berusia 13 tahun, namun telah meriwayatkan ribuan hadist.

Itu pemicu pertama, pemicu keduanya adalah anak saya yang pertama sudah berumur enam tahun lebih, juni 2020 ini sudah waktunya dia masuk sekolah. Ini memberikan beban pikiran tersendiri bagi saya selaku ayah. Pendidikan seperti apa yang akan saya fasilitasi untuk dia bisa mencapai kedewasaannya secara tepat dan tidak terlambat. Berkaca pada diri sendiri, lulus s1 masih bingung hidup mau ngapain. Bahkan saya sendiri baru merasa benar-benar dewasa secara pemikiran di usia 30 tahun. Sungguh terlambat.

Trigger ketiga adalah cerita istri tentang rumah tangga temennya. Keluarga ini lagi kesusahan hidup di kota besar, usaha yang mereka rintis gagal. Mereka sekarang terjepit beberapa tagihan kredit, sementara itu rumah kontrakan akan segera habis dan harus segera pindah karena tidak mampu bayar. Nah, dalam situasi seperti ini, opsi terbatas dan juga pilihan sikap harus benar-benar dipikirkan, apalagi sudah menyangkut beberapa anak balita yang jadi titipal Allah pada mereka. Singkat cerita, saya berimajinasi kalau itu terjadi di diri saya, apa yang harus saya lakukan. Nah, celakanya setelah saya cerita ke istri apa yang akan saya lakukan seandainya saya di jadi si suami, istri saya cerita bahwa temannya itu malah ingin pinjam uang untuk daftar CPNS. Sungguh diluar ekspektasi saya. Tiga hal ini membuat saya berpikir kembali apa dan kapan sebenarnya serta bagaimana kita tahu bahwa kita telah dewasa?

Menurutku, berdasarkan yang saya baca dari buku karya Mark Manson : Sebuah Seni untuk Bersikap Masa Bodoh, adalah ketika kita berani jujur kepada diri sendiri dan mengambil sikap untuk bertanggung jawab atas segala hal, yang baik terlebih lagi yang buruk yang terjadi pada diri kita. 

Ini lebih kepada sikap mental menurut saya, yang tentu saja harus diikuti oleh perilaku bertanggung jawab. Mudah bagi kita mengatakan kita bertanggung jawab, tapi hati tidak pernah bohong. Selama kita masih membohongi diri sendiri dan berharap ada sesuatu di luar sana yang akan menyelesaikan masalah kita, kita tidak pernah akan bisa bertanggung jawab.

Saya pernah dalam kondisi dimana uang tidak ada, pekerjaan lepas dan harus memenuhi kebutuhan istri dan tiga orang anak. Saat itu orang akan menganggap saya bertanggung jawab, karena saya “kelihatan” berusaha. Dan memang kelihatannya saya sedang berusaha semampu saya.

Namun, jauh dalam diri, usaha yang saya lakukan hanyalah sebuah kamuflase untuk membohongi diri sendiri bahwa saya sedang berusaha, nanti Allah akan membantu, nanti akan ada keluarga yang menalangi sementara untuk makan, atau nanti entah akan datang pekerjaan tiba-tiba seperti cerita-cerita ustadz kalau kita bersabar.

Eit… tunggu dulu. Pertanyaannya apakah aku benar-benar bertanggung jawab. Hei! Apakah hatimu sudah yakin, apakah usaha yang kamu lakukan sudah 100%? Ataukah hanya seadanya saja. Apakah kepasrahanku pada Allah hanya sebatas pengalihan tanggung jawab? Sudahkah kamu rencanakan langkahmu dengan benar, sudahkan kamu ilmui apa yang akan kamu perbuat? Semua ini ada sunnatullah atau hukum alamnya teman. Kalau kamu berusaha cari uang, tidak akan mungkin langsung jebret tiba-tiba datang banyak. Harus melalui proses, sudahkah kamu rencanakan prosesnya dengan benar.

Ah, semua itu bisa terjadi harus dimulai dulu dari sikap mental bertanggung jawab. Ya, aku saat ini sedang susah. Saya terima sebagai sebuah tantangan yang harus saya selesaikan sendiri, tanpa bantuan siapapun. Kalau pun ada bantuan datang itu hanyalah bonus dari Allah hasil dari doa orang-orang tersayang yang sedang kita perjuangkan. Dari sini akan muncul pikiran yang jernih, langkah yang tertata, ilmu yang bertambah, serta ikhtiar yang sempurna. Setelah itu terserah Allah.

Yang paling  penting, dalam kondisi seperti itu, kita telah memilih menjadi dewasa. 🙂

Gitu-Gitu Aja!

Kau yang sedang menikmati makanmu di sana, sendirian!

Tidakkah kau ingat dulu, bagaimana ibumu membangunkanmu untuk makan sahur, saat dalam letih ngantuknya, membangunkanmu susah payah, karena kau tak mau beranjak dari sarang hangat selimutmu.

Bukankan dulu, ayahmu memanggil namamu berkali-kali, tapi kau hanya membali sekali, itupun dengan ucapan mengerang tanpa makna, tanpa niat untuk segera bangun.

Kau yang sedang asyik mengunyah daging di sana, sendirian!

Apa kau lupa bahwa keberkahan itu bukan hanya ada pada sahurnya, tapi juga kebersamaannya. Dalam duduk melingkarnya ada malaikat melihat. Dalam kantuk suap anak balitamu, ada pelajaran dan kenangan kan terpatri. Dalam doa sebelum dan sesudah kunyahan terakhir, ada keberkahan berlimpah.

Kau yang bilang, gitu-gitu aja di sana, dengan sendok dan garpumu, sendirian!

Mungkin kau mengira memang ini tidak berarti, tapi bagiku itulah keberkahan. Menghargai niat dia yang masih belia untuk belajar puasa dengan memberikan suasana puasa, bukan suasanya kesendirian dan kenyang sendiri.

Segelas susu hangat untuk membangunkan, bujuk rayu agak raganya tegak dan siap untuk menyantap, piring yang melingkar rapi menunggu setiap orang, doa bersama menyambut rizki dari tuhan, santap hangat dengan sesekali hikmah dan optimisme puasa, serta ajakan agenda ibadah kita hari ini, kemudian ditutup dengan doa atas rahmat.

Aku rasa itu tidaklah terlalu berat, kalau kau tidak memikirkan banyak alasan untuk tidak melakukannya.

Terakhir kali, kau yang kenyang sendirian di sana, sendirian!

Nikmatilah makanmu, jangan lupa, yang kau kenang ketika seseorang meninggal bukanlah uang atau makanan mewah yang ia berikan kepadamu, tapi tingkah laku sederhana melekat erat di memori inti kepala kita. Hal kecil seperti kecup hangat saat membangunkan sahur adalah salah satunya.

Tertinggal Rindu

Saat kita bertemu hari saat dia tiba-tiba telah pergi, tersisa sesungging senyum di ingatan. Mata yang teduh, bibir menggamit bulan sabit, lukisan keikhlasan menggema terang.

Ketika dia yang telah bertahun membersamai tetiba menghilang, tergamit suaranya menggema di udara kenangan. Tinggi suaranya saat marah, lembut suaranya kala membelai, dan tenang rimanya kala menasehati.

Kala kau tak menatap matahari dan melewatkan malam lagi bersamanya, menyeruak potonga-potongan memori yang menggesa dadamu, bergelombang mencekat kerongkonganmu dan akhirnya tumpah di pelupuk mata. Mengalir bersama rindu di tiap tetesnya. Merembesi pipimu, menunggu hatimu yang bergelamut bersama beraneka rasa hingga akhirnya ia ikhlas. Serta menyerahkan semuanya pada obat yang bernama waktu.

Semua tak kan lagi sama pikirmu. Ada doa darinya yang terputus. Setengah kekuatanmu menghadapi dunia menguap. Sandaran tempat kau mendera tangis telah pergi. Kau merasa sendirian. Segala benda mengingatkanmu kepada kepingan adegan lalu.

Ada suasana tak lagi seramai dulu kala satu kursi di meja makan sana telah kosong ia tinggalkan. Suapannya telah menemanimu tumbuh, masakannya telah membentuk aroma rasa dalam lidahmu, bahkan saat kau jauh, mereka itulah yang selalu membuatmu menggerus langkah tuk segera pulang. Pun saat kau sudah punya keluarga, kiriman kecil darinya selalu datang walau kau tak meminta.

Kalau kau memilih menangis dalam sepi, doakan dia. Kala ingatan tentangnya datang dalam gelisah tidurmu, bacakan doa untuknya. Jika tetiba satu benda mengusik lagi kenangan tentangnya, kirimkan doa padanya. Dan janganlah kau berhenti di situ. Ada amal baik teladannya yang harus kamu lanjutkan. Ada kerja shalih yang wajib kamu buat sebagai hadiah untuknya. Semoga dalam dimensi yang berbeda, ia melihatmu dengan tersenyum sampai tiba waktunya kita semua, Allah kumpulkan kembali di surga.

Secangkir Susu Hangat dan Sebuah Perjanjian

I’am a terrible father…

Aku pernah sok-sok’an menulis di situsku, tepatnya di bagian tentang aku dengan tulisan: ‘a full time father’, seorang ayah sepenuh waktu. Entah apa yang aku pikirkan waktu itu, aku tidak ingat. Mungkin saja waktu itu aku baru merasakan menjadi seorang ayah, atau mungkin saja waktu itu aku sedang jadi pengannguran. Tidak ada bedanya.

Dalam hati, bisa jadi itu adalah sebuah harapan, atau mungkin saja sebuah kalimat pelarian dari keadaan sedang tidak punya kerjaan. Oh ya, aku ingat, itu adalah waktu aku memutuskan untuk tidak lagi menjadi dosen, berhenti dari jabatan dekan dan memutuskan berwirausaha.

Ok, jadi kita simpulkan saja, itu adalah harapan sekaligus kalimat hiburan setelah tidak punya jabatan apa-apa dengan penghasilan yang belum jelas. hehe.

Tapi bukan itu yang aku ingin tulis malam ini, aku ingin mengingatkan diri sendiri bahwa aku masih seorang ayah yang buruk. Bahkan sekarang, setelah tiga orang nyawa Allah amanahkan di rumah kecilku. Namun, bukan keburukanku sebagai ayah yang akan aku tuliskan sekarang, melainkan sebuah usaha perbaikan menjadi ayah yang lebih baik.

Berawal dari lintasan postingan seorang psikolog muslim yang mengingatkan tentang begitu pentingnya bagun pagi untuk anak, sebagai upaya untuk melatih mental dan juga jiwanya agar tumbuh menjadi pribadi yang kuat, penuh dengan hikmah. Bukan pribadi malas-malasan yang kalah sama ayam.

Sebelumnya, ingin aku sampaikan kalau bangun pagi bukanlah masalah buatku. Karena sekarang pekerjaan utamaku adalah beriklan di Facebook, yang mana perhitungan start iklan paling bagus adalah di awal waktu (jam 12 malam) maka jam kerjaku berubah ke jam tersebut. Selalu tidur cepat dan bangun jam 1 atau jam 2 malam untuk bekerja.

Tapi permasalahanku dari dulu adalah selalu tidak enakan kalau harus membangunkan orang lain. Tiga tahun di pondok, aku termasuk orang yang jarang membangunkan teman tiga teman kamar lainnya kalau sudah subuh, kecuali ustadz sudah mengendus di depan pintu. Sewaktu di kuliah, aku tinggal di ruangan sebelah mimbar imam bersama seorang mahasiswa dari jurusan tarbiyah, dia juga jarang sekali aku bangunkan kala aku bangun duluan. Padahal setiap dia terbangun, ia selalu menyempatkan sekadar memanggil namaku untuk siap-siap subuhan.

Nah, setelah punya anak pun, istri sendiri bahkan jarang aku bangunkan. Rasanya setiap kali ingin membangunkan, selalu ada perasaan tidak enak, ditambah lagi aku punya sebuah pemikiran bahwa setiap orang itu punya kesadaran sendiri untuk bangun pagi, sesuai keinginan masing-masing. Ini adalah mindset yang terus melekan dalam kepalaku; terbukti setiap kali aku menset alarm untuk membangunkanku di jam tertentu. Selalu saja, aku terbangun setengah jam, atau paling lambat lima menit sebelum alarm itu berbunyi. Aku selalu menjadi orang yang bangun lima menit sebelum alarm berbunyi, menunggu dering yang teleh aku setting sendiri sebelumnya, untuk kemudian aku tunggu dan aku matikan.

Tapi ternyata aku salah…

Ini adalah tentang tanggung jawab sebagai seorang ayah. Mereka adalah anak-anakku. Mereka suci polos dalam bentuknya yang paling penurut. Sekarang terserah kepadaku, bagaimana aku akan membentuk mereka. Tak kubangunkan mereka tidak akan bangun dan terus tidur sampai mereka menjadi pribadi yang pemalas. Aku harus membangunkan mereka.

“Bang,” kataku pada Adzka si sulung yang sekarang sudah lima tahun.

“Besok Abi bangunin pagi-pagi ya…” aku menunggu ia mencerna kalimatku, sejenak kemudian kulanjutkan dengan mengatakan the reason why-nya

“Kita olahraga lari pagi, pake sepatu.” aku tahu dia suka pake sepatu, makanya aku menekankan benda itu harus terucap.

“Setelah bangun,” aku harus membuat uruan waktu supaya ia mendapat gambaran utuh, agar ia juga tahu bahwa bangun pagi bukan cuman untuk pake sepatu “Kita ke masjid sholat subuh baru kita pulang ganti sarung pake celana terus pake sepatu dan lari pagi, Ok?”

Ia mengangguk dan ada sebulir senyum di bibirnya. Ia sepakat. Tapi aku harus mengulang satu kali lagi, untuk mengikat.

“Tapi besok kalau Abi bangunin jangan marah ya!” Ia mengatakan Iya, aku kecup keningnya dan kemudian rutinitas meninabobokkan sampai ia tertidur.

***

Sehabis wudhu untk sholat subuh aku keluar kamar mandi dan mendapati dia, Adzka sudah berdiri di pinggir kasurnya. Subhanallah… dia sudah bangun tanpa aku bangunkan.

Tak mau melepaskan kesempatan emas, aku memujinya karena telah bangun. “Abang sudah bangun, Abi buatkan susu hangat ya!” rona mukanya yang tadinya masih penuh dengan kantuk mulai berubah, ada warna semangat yang mulai tumbuh mendengar kata susu hangat.

Kepalang tanggung, walaupun tadi malam, adiknya Adzka, si nomer dua belum aku buat perjanjian tentang bangun pagi, karena si Abang sudah bangun tanpa dibangunkan, segelas susu hangat plus abang yang sudah melek, akan membuat dia bersemangat untuk bangun. Dan benar saja…

“Abang… abang,” Aku juga memanggilnya abang karena dia nomer dua, dia masih punya satu adik perempuan paling bungsu. “Abang bangun ya… Abi udah buatkan susu, susu yang kita beli tadi malam itu lho., Abang Adzka juga udah bangun itu. Bangun ya, minum susunya selagi masih hangat.”

Alhamdulillah dia membuka mata dengan berbinar, di sampingku sudah ada Abang Adzka dengan membawa dua buah gelas susu hangat.